Rabu, 30 September 2009
Selasa, 29 September 2009
KEPONAKAN YANG NARCIS
Hari-hari yang kulalui kadang menyenangkan tapi tak jarang pula sangat menyebalkan. Rutinitas waktu yang kadang-kadang menoton membuat kreatifitas berkurang sehingga ide-ide sulit tersalurkan membuat aku kadang-kadang merasa jenuh dan rasanya ingin berteriak sekeras-kerasnya heheheehe
Aktifitas yang begitu padat membuat aku sering lupa makan siang, tugas yang menumpuk sering membuat aku bingung mau menyelesaikan yang mana terlebih dulu, aku memang tidak bisa menentuka skala prioritas, itu salah satu kelemahanku yang aku rasakan dari tempat aku mecari sesuap nasi, segenggam berlian. ha..ha
Gak ada ide buat posting apa-apa sih, cuman pengen eksploitasi aja keponakan-keponakan saya yang sangat-sangat lucuh, begitu banyak hal didalam kepala saya yang mau saya posting, tapi saking banyaknya sampai-sampai saya bingung mau bercertia apalagi…..sudah saya posting saja …..dan ini adalah poto terbaru, sekarang keponakan saya yangsudah bisa diarahkan untuk berpose….aaaaaaaaaaah lucuuuuuuuuuuuuu pokonya saya doakan semoga di saat besar dan dewasanya nanti bisa menjadi anak yang sholehah, dan berbakti pada orang tua ya dek…….
Kali ini saya pengen cerita tentang serunya menjadi om dari lima belas orang keponakan. Oiya, mungkin ada yang belum kenal sama saya, boleh liat di page about me. Singkat kata, saya Jamil, anak ke 7 dari 8 bersaudara alias anak bawang. Ketuju kakak saya udah berkeluarga semua. Masing-masing juga sudah punya anak, yang menjadi keponakan saya sementara saya dan adik yang bungsung belum berkeluarga. Saat ini saya punya 15 orang keponakan, 6 dari kakak pertama, 4 dari kakak kedua, 3 dari kakak ketiga, 1 dari kakak keempat dan 1 dari kakak yang kelima. Kelima belas keponakan saya 6 orang cewek dan 9 orang cowok. Yang menarik dalam keluarga kami terdapat 7 orang laki-laki dan seorang perempuan. nanti saya cerita tentang mereka di kesempatan lain.
FAJRIN

IMBANG

DINDA

UZHUNIA

FARHANA

AULIA

ARIFIN

KIKI

DANI
Aktifitas yang begitu padat membuat aku sering lupa makan siang, tugas yang menumpuk sering membuat aku bingung mau menyelesaikan yang mana terlebih dulu, aku memang tidak bisa menentuka skala prioritas, itu salah satu kelemahanku yang aku rasakan dari tempat aku mecari sesuap nasi, segenggam berlian. ha..ha
Gak ada ide buat posting apa-apa sih, cuman pengen eksploitasi aja keponakan-keponakan saya yang sangat-sangat lucuh, begitu banyak hal didalam kepala saya yang mau saya posting, tapi saking banyaknya sampai-sampai saya bingung mau bercertia apalagi…..sudah saya posting saja …..dan ini adalah poto terbaru, sekarang keponakan saya yangsudah bisa diarahkan untuk berpose….aaaaaaaaaaah lucuuuuuuuuuuuuu pokonya saya doakan semoga di saat besar dan dewasanya nanti bisa menjadi anak yang sholehah, dan berbakti pada orang tua ya dek…….
Kali ini saya pengen cerita tentang serunya menjadi om dari lima belas orang keponakan. Oiya, mungkin ada yang belum kenal sama saya, boleh liat di page about me. Singkat kata, saya Jamil, anak ke 7 dari 8 bersaudara alias anak bawang. Ketuju kakak saya udah berkeluarga semua. Masing-masing juga sudah punya anak, yang menjadi keponakan saya sementara saya dan adik yang bungsung belum berkeluarga. Saat ini saya punya 15 orang keponakan, 6 dari kakak pertama, 4 dari kakak kedua, 3 dari kakak ketiga, 1 dari kakak keempat dan 1 dari kakak yang kelima. Kelima belas keponakan saya 6 orang cewek dan 9 orang cowok. Yang menarik dalam keluarga kami terdapat 7 orang laki-laki dan seorang perempuan. nanti saya cerita tentang mereka di kesempatan lain.
FAJRIN
IMBANG
DINDA
UZHUNIA
FARHANA
AULIA
ARIFIN
KIKI
DANI
Kamis, 10 September 2009
ADAT KETIMURAN
Menarik memang.. sehingga saya disini ingin mengemukakan tentang adat ketimuran. Kita sering mendengar kata adat timur dan adat barat. Biasanya konotasinya adat timur baik barat jelek. Sebenar tidak seluruhnya betul. Kedua2nya ada yg baik dan ada yg jelek. Adat ketimuran itu bisa dibilang sebagai adat yg banyak berlaku di Asia tenggara utamanya malaysia , indonesia dan brunei yang mana tata cara dan sopan santun didalamnya banyak dipengaruhi oleh agama islam dan budaya kerajaan serta feodalisme akibat penjajahan.
Setelah saya mengalami sendiri hidup diperantauan, saya merasakan apa
sebenarnya yg dimaksud dg adat ketimuran. Saya jadi ragu untuk mengatakan adat ketimuran sama dengan adat Indonesia.. Yang saya alami adalah bahwa adat setempat tidak bisa digunakan untuk mengukur adat ditempat lain. Bagaimana bisa adat jawa untuk mengukur adat bugis atau sebaliknya.. atau adat timur untuk mengukur adat barat dsb.Tentu tidak akan nyambung.
Setelah mengalami sendiri , rasanya......... sebenarnya tidak ada yg dinamakan adat ketimuran. Yang ada hanyalah adat lokal seperti adapt Maluku, Batak, Dayak, Bugis, Jawa, Papua dll. yang kadang juga tidak bisa diterima di daerah atau tempat lain. Sebagai contoh kalau kita naik bus kota, ada seorang penumpang yg sudah tua berdiri kenyataannya yg muda2 cuek bebek saja. Padahal orang barat yg muda dg cepat memberikan tempat duduknya pada kakek tsb. Apakah bisa dikatakan anak muda tadi pake adat barat lalu si belanda pakai adat timur?
Orang jawa memberikan sesuatu dengan tangan kanan, di bugis tidak tabu memberi dengan tangan kiri, bahkan daeng beca memberikan susuk uang kembalian dengan tangan kiri dari atas sadelnya. Apakah ini bukan adat ketimuran? Padahal itu hal biasa dan bukan suatu penghinaan. Bagi mereka hal itu biasa2 saja.
Dibugis lebih sopan kalau kita duduk kaki bersila di kursi .. tapi bagaimana kalau ini dilakukan dijawa? Bukankah itu juga adat ketimuran. Bisakah adat timur diseragamkan? Sulit juga kan? Jadi perlu dirumuskan ''Apa sebenar nya yang dimaksud adat ketimuran Indonesia''. Patokan apa yg dipakai sebagai ukurannya.
Akan tetapi hal ini sulit juga.. karena masing2 agama, adat istiadat, dan budaya punya standar yg kadang berbeda2. Agama A bilang gini B bilang gitu belum yg C dan D dst. belum lagi adat dan budaya. Lalu sebenarnya adakah adat ketimuran Indonesia itu?
Dulu kita kalau ngomong bahasanya tidak bisa halus orang2 tua sudah ribut, jaman anak kita anak2 sudah pakai bahasa jawa kasar, cucu sudah 100% bahasa Indonesia , jangan kaget cicit nanti pakai bahasa inggris. Dan tentu saja sopan santun serta tata kramanya yg dibawa akan lain, gak tahu gimana lagi bentuknya.
Sopan santun di setiap daerah berbeda2 Kalau orang Jawa merantau ke Maluku Batak ke Ambon dll maka adat ketimuran jawa tidak laku disana. Disana adat yg harus dipakai ya adat ketimuran setempat. Kalau ada bule pakai kutang dan cawat di pelosok2 jawa ya bisa dilempari batu padahal dipantai kuta tak ada masalah. Apakah orang 2 kuta ada something wrong ? Apakah mereka tidak punya adat ketimuran?
Di Malaysia, Brunei yg dimaksud adat ketimuran lebih kearah nilai tata keislaman. Memang didalam agama islam ada ukuran2 sopan santun dan tata krama dalam ber hablum minannas dengan standard tersendiri dan itu sudah diajarkan berabad2 dan lebih terjaga di malaysia dan brunei. Sedang di indonesia tata kerama yang demikian sudah semakin makin jauh. ?????????????????
Malu
Terkisahlah cerita dinegeri nun jauh di timur sana dimana penduduknya sedang mencari identitas diri. Sebenarnya bukan mereka tidak mempunyai identitas diri tetapi entah sudah bosan dengan dirinya, ataukah dia ingin meniru, mengidentifikasikan dirinya kepada bangsa lain yang menurutnya sudah maju. Padahal sebenarnya yang dicontoh tidak lebih baik daripada yang mencontoh, apalagi dari segi agama ataupun moralitas. Se suatu contoh yang berbasiskan kepada ke''manusia''an, demos, dimana lebih banyak menuntut hak daripada kewajiban. Nafsu2 ego bahkan id menjadi sangat dominan dibanding superego.
Keadaan itu membawa dia yang tadinya adalah bangsa yang santun, berintegritas, punya rasa malu yang tinggi, berubah menjadi bangsa yang beringas nyaris tanpa tata kerama, jauh dari rasa malu baik dalam polah tingkah ataupun perbuatan. Menjadi bangsa yang sak karepe dewe tidak bisa mengatur dirinya sendiri, apalagi diatur orang lain, bangsa yang amburadul, egoistis, individualistis dan materialistis, bangsa yang sedang merusak dirinya sendiri.
Pertanyaannya, apakah untuk menjadi baik -sesuatu bangsa - harus menjadi rusak terlebih dahulu?
Mungkin memang harus demikian takdirnya, siklus duniawi, baik, rusak, kembali baik, rusak lagi dst...... Manusiawi, jika suatu bangsa ingin selalu berubah, tetapi karena yang membimbing hanya akalnya saja, tanpa bimbingan mental yang memadai, tidak ada yang mengarahkan, agama dilupakan, sehingga keadaan yang terjadi tidak seperti yang diharapkan, bahkan amburadul, timbul kesemerawutan dimana2.
Ibarat air yang sedang berguncang kesana kemari, menurut kodratnya dia nantinya akan mencari keseimbangannya sendiri. Semoga saja... tidak malah mawut tumpah kemana2, apalagi sampai mengalir ke tempat titik nadir, mencari titik yang terendah, dimana nantinya tentu akan sulit, membutuhkan energi yang sangat besar, untuk memompanya keatas, untuk mengembalikan pada keseimbangan, pada achir posisinya yang terbaik.....
Sudah berjalan satu dekade bangsa itu ingin keluar dari masalah yang melilit dirinya, tetapi nampaknya masih jauh dari harapan bahkan persoalan makin ruwet, makin semrawut, makin tidak teratur dalam segala hal.
Para pemimpin para pemegang kekuasaan masih saja tidak merubah visi, rakyat tetap dikesampingkan, kepentingan pribadi masih sangat menonjol sehingga kebobrokan2 demi kebobrokan nampak dimana2. Peribahasa jawa '' becik ketitik ala ketara '' sudah menampakkan dirinya. Pada bangsa itu mulai tampak pemimpin yang memang memimpin dan pemimpin yang hanya mencari keuntungan pribadi. Ironisnya justru kelompok yang terahir tadi yang lebih banyak. Korupsi makin menjadi, kolusi dan nepotisme bukannya berkurang. Padahal semangat reformasi kala itu menggebu2 mau memberantas yang namanya KKN tersebut.
Entah kapan bangsa itu bisa keluar dari masalah yang membelitnya. KKN sudah menjadi budaya, tidak lagi merupakan hal yang memalukan, justru merupakan suatu kebanggaan dan dilakukan secara terang2an secara berjamaah, tidak menjadi sesuatu yang rahasia lagi.
Budaya malu sudah hilang........ sesuatu yang sangat mahal harganya, sesuatu yang dapat mecegah perbuatan2 dosa dan tercela.
'' malu sudah hilang ''.........
Mungkinkah bangsa itu-pun akan hilang?
Setelah saya mengalami sendiri hidup diperantauan, saya merasakan apa
sebenarnya yg dimaksud dg adat ketimuran. Saya jadi ragu untuk mengatakan adat ketimuran sama dengan adat Indonesia.. Yang saya alami adalah bahwa adat setempat tidak bisa digunakan untuk mengukur adat ditempat lain. Bagaimana bisa adat jawa untuk mengukur adat bugis atau sebaliknya.. atau adat timur untuk mengukur adat barat dsb.Tentu tidak akan nyambung.
Setelah mengalami sendiri , rasanya......... sebenarnya tidak ada yg dinamakan adat ketimuran. Yang ada hanyalah adat lokal seperti adapt Maluku, Batak, Dayak, Bugis, Jawa, Papua dll. yang kadang juga tidak bisa diterima di daerah atau tempat lain. Sebagai contoh kalau kita naik bus kota, ada seorang penumpang yg sudah tua berdiri kenyataannya yg muda2 cuek bebek saja. Padahal orang barat yg muda dg cepat memberikan tempat duduknya pada kakek tsb. Apakah bisa dikatakan anak muda tadi pake adat barat lalu si belanda pakai adat timur?
Orang jawa memberikan sesuatu dengan tangan kanan, di bugis tidak tabu memberi dengan tangan kiri, bahkan daeng beca memberikan susuk uang kembalian dengan tangan kiri dari atas sadelnya. Apakah ini bukan adat ketimuran? Padahal itu hal biasa dan bukan suatu penghinaan. Bagi mereka hal itu biasa2 saja.
Dibugis lebih sopan kalau kita duduk kaki bersila di kursi .. tapi bagaimana kalau ini dilakukan dijawa? Bukankah itu juga adat ketimuran. Bisakah adat timur diseragamkan? Sulit juga kan? Jadi perlu dirumuskan ''Apa sebenar nya yang dimaksud adat ketimuran Indonesia''. Patokan apa yg dipakai sebagai ukurannya.
Akan tetapi hal ini sulit juga.. karena masing2 agama, adat istiadat, dan budaya punya standar yg kadang berbeda2. Agama A bilang gini B bilang gitu belum yg C dan D dst. belum lagi adat dan budaya. Lalu sebenarnya adakah adat ketimuran Indonesia itu?
Dulu kita kalau ngomong bahasanya tidak bisa halus orang2 tua sudah ribut, jaman anak kita anak2 sudah pakai bahasa jawa kasar, cucu sudah 100% bahasa Indonesia , jangan kaget cicit nanti pakai bahasa inggris. Dan tentu saja sopan santun serta tata kramanya yg dibawa akan lain, gak tahu gimana lagi bentuknya.
Sopan santun di setiap daerah berbeda2 Kalau orang Jawa merantau ke Maluku Batak ke Ambon dll maka adat ketimuran jawa tidak laku disana. Disana adat yg harus dipakai ya adat ketimuran setempat. Kalau ada bule pakai kutang dan cawat di pelosok2 jawa ya bisa dilempari batu padahal dipantai kuta tak ada masalah. Apakah orang 2 kuta ada something wrong ? Apakah mereka tidak punya adat ketimuran?
Di Malaysia, Brunei yg dimaksud adat ketimuran lebih kearah nilai tata keislaman. Memang didalam agama islam ada ukuran2 sopan santun dan tata krama dalam ber hablum minannas dengan standard tersendiri dan itu sudah diajarkan berabad2 dan lebih terjaga di malaysia dan brunei. Sedang di indonesia tata kerama yang demikian sudah semakin makin jauh. ?????????????????
Malu
Terkisahlah cerita dinegeri nun jauh di timur sana dimana penduduknya sedang mencari identitas diri. Sebenarnya bukan mereka tidak mempunyai identitas diri tetapi entah sudah bosan dengan dirinya, ataukah dia ingin meniru, mengidentifikasikan dirinya kepada bangsa lain yang menurutnya sudah maju. Padahal sebenarnya yang dicontoh tidak lebih baik daripada yang mencontoh, apalagi dari segi agama ataupun moralitas. Se suatu contoh yang berbasiskan kepada ke''manusia''an, demos, dimana lebih banyak menuntut hak daripada kewajiban. Nafsu2 ego bahkan id menjadi sangat dominan dibanding superego.
Keadaan itu membawa dia yang tadinya adalah bangsa yang santun, berintegritas, punya rasa malu yang tinggi, berubah menjadi bangsa yang beringas nyaris tanpa tata kerama, jauh dari rasa malu baik dalam polah tingkah ataupun perbuatan. Menjadi bangsa yang sak karepe dewe tidak bisa mengatur dirinya sendiri, apalagi diatur orang lain, bangsa yang amburadul, egoistis, individualistis dan materialistis, bangsa yang sedang merusak dirinya sendiri.
Pertanyaannya, apakah untuk menjadi baik -sesuatu bangsa - harus menjadi rusak terlebih dahulu?
Mungkin memang harus demikian takdirnya, siklus duniawi, baik, rusak, kembali baik, rusak lagi dst...... Manusiawi, jika suatu bangsa ingin selalu berubah, tetapi karena yang membimbing hanya akalnya saja, tanpa bimbingan mental yang memadai, tidak ada yang mengarahkan, agama dilupakan, sehingga keadaan yang terjadi tidak seperti yang diharapkan, bahkan amburadul, timbul kesemerawutan dimana2.
Ibarat air yang sedang berguncang kesana kemari, menurut kodratnya dia nantinya akan mencari keseimbangannya sendiri. Semoga saja... tidak malah mawut tumpah kemana2, apalagi sampai mengalir ke tempat titik nadir, mencari titik yang terendah, dimana nantinya tentu akan sulit, membutuhkan energi yang sangat besar, untuk memompanya keatas, untuk mengembalikan pada keseimbangan, pada achir posisinya yang terbaik.....
Sudah berjalan satu dekade bangsa itu ingin keluar dari masalah yang melilit dirinya, tetapi nampaknya masih jauh dari harapan bahkan persoalan makin ruwet, makin semrawut, makin tidak teratur dalam segala hal.
Para pemimpin para pemegang kekuasaan masih saja tidak merubah visi, rakyat tetap dikesampingkan, kepentingan pribadi masih sangat menonjol sehingga kebobrokan2 demi kebobrokan nampak dimana2. Peribahasa jawa '' becik ketitik ala ketara '' sudah menampakkan dirinya. Pada bangsa itu mulai tampak pemimpin yang memang memimpin dan pemimpin yang hanya mencari keuntungan pribadi. Ironisnya justru kelompok yang terahir tadi yang lebih banyak. Korupsi makin menjadi, kolusi dan nepotisme bukannya berkurang. Padahal semangat reformasi kala itu menggebu2 mau memberantas yang namanya KKN tersebut.
Entah kapan bangsa itu bisa keluar dari masalah yang membelitnya. KKN sudah menjadi budaya, tidak lagi merupakan hal yang memalukan, justru merupakan suatu kebanggaan dan dilakukan secara terang2an secara berjamaah, tidak menjadi sesuatu yang rahasia lagi.
Budaya malu sudah hilang........ sesuatu yang sangat mahal harganya, sesuatu yang dapat mecegah perbuatan2 dosa dan tercela.
'' malu sudah hilang ''.........
Mungkinkah bangsa itu-pun akan hilang?
ADAT KETIMURAN
Menarik memang.. sehingga saya disini ingin mengemukakan tentang adat ketimuran. Kita sering mendengar kata adat timur dan adat barat. Biasanya konotasinya adat timur baik barat jelek. Sebenar tidak seluruhnya betul. Kedua2nya ada yg baik dan ada yg jelek. Adat ketimuran itu bisa dibilang sebagai adat yg banyak berlaku di Asia tenggara utamanya malaysia , indonesia dan brunei yang mana tata cara dan sopan santun didalamnya banyak dipengaruhi oleh agama islam dan budaya kerajaan serta feodalisme akibat penjajahan.
Setelah saya mengalami sendiri hidup diperantauan, saya merasakan apa
sebenarnya yg dimaksud dg adat ketimuran. Saya jadi ragu untuk mengatakan adat ketimuran sama dengan adat Indonesia.. Yang saya alami adalah bahwa adat setempat tidak bisa digunakan untuk mengukur adat ditempat lain. Bagaimana bisa adat jawa untuk mengukur adat bugis atau sebaliknya.. atau adat timur untuk mengukur adat barat dsb.Tentu tidak akan nyambung.
Setelah mengalami sendiri , rasanya......... sebenarnya tidak ada yg dinamakan adat ketimuran. Yang ada hanyalah adat lokal seperti adapt Maluku, Batak, Dayak, Bugis, Jawa, Papua dll. yang kadang juga tidak bisa diterima di daerah atau tempat lain. Sebagai contoh kalau kita naik bus kota, ada seorang penumpang yg sudah tua berdiri kenyataannya yg muda2 cuek bebek saja. Padahal orang barat yg muda dg cepat memberikan tempat duduknya pada kakek tsb. Apakah bisa dikatakan anak muda tadi pake adat barat lalu si belanda pakai adat timur?
Orang jawa memberikan sesuatu dengan tangan kanan, di bugis tidak tabu memberi dengan tangan kiri, bahkan daeng beca memberikan susuk uang kembalian dengan tangan kiri dari atas sadelnya. Apakah ini bukan adat ketimuran? Padahal itu hal biasa dan bukan suatu penghinaan. Bagi mereka hal itu biasa2 saja.
Dibugis lebih sopan kalau kita duduk kaki bersila di kursi .. tapi bagaimana kalau ini dilakukan dijawa? Bukankah itu juga adat ketimuran. Bisakah adat timur diseragamkan? Sulit juga kan? Jadi perlu dirumuskan ''Apa sebenar nya yang dimaksud adat ketimuran Indonesia''. Patokan apa yg dipakai sebagai ukurannya.
Akan tetapi hal ini sulit juga.. karena masing2 agama, adat istiadat, dan budaya punya standar yg kadang berbeda2. Agama A bilang gini B bilang gitu belum yg C dan D dst. belum lagi adat dan budaya. Lalu sebenarnya adakah adat ketimuran Indonesia itu?
Dulu kita kalau ngomong bahasanya tidak bisa halus orang2 tua sudah ribut, jaman anak kita anak2 sudah pakai bahasa jawa kasar, cucu sudah 100% bahasa Indonesia , jangan kaget cicit nanti pakai bahasa inggris. Dan tentu saja sopan santun serta tata kramanya yg dibawa akan lain, gak tahu gimana lagi bentuknya.
Sopan santun di setiap daerah berbeda2 Kalau orang Jawa merantau ke Maluku Batak ke Ambon dll maka adat ketimuran jawa tidak laku disana. Disana adat yg harus dipakai ya adat ketimuran setempat. Kalau ada bule pakai kutang dan cawat di pelosok2 jawa ya bisa dilempari batu padahal dipantai kuta tak ada masalah. Apakah orang 2 kuta ada something wrong ? Apakah mereka tidak punya adat ketimuran?
Di Malaysia, Brunei yg dimaksud adat ketimuran lebih kearah nilai tata keislaman. Memang didalam agama islam ada ukuran2 sopan santun dan tata krama dalam ber hablum minannas dengan standard tersendiri dan itu sudah diajarkan berabad2 dan lebih terjaga di malaysia dan brunei. Sedang di indonesia tata kerama yang demikian sudah semakin makin jauh. ?????????????????
Malu
Terkisahlah cerita dinegeri nun jauh di timur sana dimana penduduknya sedang mencari identitas diri. Sebenarnya bukan mereka tidak mempunyai identitas diri tetapi entah sudah bosan dengan dirinya, ataukah dia ingin meniru, mengidentifikasikan dirinya kepada bangsa lain yang menurutnya sudah maju. Padahal sebenarnya yang dicontoh tidak lebih baik daripada yang mencontoh, apalagi dari segi agama ataupun moralitas. Se suatu contoh yang berbasiskan kepada ke''manusia''an, demos, dimana lebih banyak menuntut hak daripada kewajiban. Nafsu2 ego bahkan id menjadi sangat dominan dibanding superego.
Keadaan itu membawa dia yang tadinya adalah bangsa yang santun, berintegritas, punya rasa malu yang tinggi, berubah menjadi bangsa yang beringas nyaris tanpa tata kerama, jauh dari rasa malu baik dalam polah tingkah ataupun perbuatan. Menjadi bangsa yang sak karepe dewe tidak bisa mengatur dirinya sendiri, apalagi diatur orang lain, bangsa yang amburadul, egoistis, individualistis dan materialistis, bangsa yang sedang merusak dirinya sendiri.
Pertanyaannya, apakah untuk menjadi baik -sesuatu bangsa - harus menjadi rusak terlebih dahulu?
Mungkin memang harus demikian takdirnya, siklus duniawi, baik, rusak, kembali baik, rusak lagi dst...... Manusiawi, jika suatu bangsa ingin selalu berubah, tetapi karena yang membimbing hanya akalnya saja, tanpa bimbingan mental yang memadai, tidak ada yang mengarahkan, agama dilupakan, sehingga keadaan yang terjadi tidak seperti yang diharapkan, bahkan amburadul, timbul kesemerawutan dimana2.
Ibarat air yang sedang berguncang kesana kemari, menurut kodratnya dia nantinya akan mencari keseimbangannya sendiri. Semoga saja... tidak malah mawut tumpah kemana2, apalagi sampai mengalir ke tempat titik nadir, mencari titik yang terendah, dimana nantinya tentu akan sulit, membutuhkan energi yang sangat besar, untuk memompanya keatas, untuk mengembalikan pada keseimbangan, pada achir posisinya yang terbaik.....
Sudah berjalan satu dekade bangsa itu ingin keluar dari masalah yang melilit dirinya, tetapi nampaknya masih jauh dari harapan bahkan persoalan makin ruwet, makin semrawut, makin tidak teratur dalam segala hal.
Para pemimpin para pemegang kekuasaan masih saja tidak merubah visi, rakyat tetap dikesampingkan, kepentingan pribadi masih sangat menonjol sehingga kebobrokan2 demi kebobrokan nampak dimana2. Peribahasa jawa '' becik ketitik ala ketara '' sudah menampakkan dirinya. Pada bangsa itu mulai tampak pemimpin yang memang memimpin dan pemimpin yang hanya mencari keuntungan pribadi. Ironisnya justru kelompok yang terahir tadi yang lebih banyak. Korupsi makin menjadi, kolusi dan nepotisme bukannya berkurang. Padahal semangat reformasi kala itu menggebu2 mau memberantas yang namanya KKN tersebut.
Entah kapan bangsa itu bisa keluar dari masalah yang membelitnya. KKN sudah menjadi budaya, tidak lagi merupakan hal yang memalukan, justru merupakan suatu kebanggaan dan dilakukan secara terang2an secara berjamaah, tidak menjadi sesuatu yang rahasia lagi.
Budaya malu sudah hilang........ sesuatu yang sangat mahal harganya, sesuatu yang dapat mecegah perbuatan2 dosa dan tercela.
'' malu sudah hilang ''.........
Mungkinkah bangsa itu-pun akan hilang?
Setelah saya mengalami sendiri hidup diperantauan, saya merasakan apa
sebenarnya yg dimaksud dg adat ketimuran. Saya jadi ragu untuk mengatakan adat ketimuran sama dengan adat Indonesia.. Yang saya alami adalah bahwa adat setempat tidak bisa digunakan untuk mengukur adat ditempat lain. Bagaimana bisa adat jawa untuk mengukur adat bugis atau sebaliknya.. atau adat timur untuk mengukur adat barat dsb.Tentu tidak akan nyambung.
Setelah mengalami sendiri , rasanya......... sebenarnya tidak ada yg dinamakan adat ketimuran. Yang ada hanyalah adat lokal seperti adapt Maluku, Batak, Dayak, Bugis, Jawa, Papua dll. yang kadang juga tidak bisa diterima di daerah atau tempat lain. Sebagai contoh kalau kita naik bus kota, ada seorang penumpang yg sudah tua berdiri kenyataannya yg muda2 cuek bebek saja. Padahal orang barat yg muda dg cepat memberikan tempat duduknya pada kakek tsb. Apakah bisa dikatakan anak muda tadi pake adat barat lalu si belanda pakai adat timur?
Orang jawa memberikan sesuatu dengan tangan kanan, di bugis tidak tabu memberi dengan tangan kiri, bahkan daeng beca memberikan susuk uang kembalian dengan tangan kiri dari atas sadelnya. Apakah ini bukan adat ketimuran? Padahal itu hal biasa dan bukan suatu penghinaan. Bagi mereka hal itu biasa2 saja.
Dibugis lebih sopan kalau kita duduk kaki bersila di kursi .. tapi bagaimana kalau ini dilakukan dijawa? Bukankah itu juga adat ketimuran. Bisakah adat timur diseragamkan? Sulit juga kan? Jadi perlu dirumuskan ''Apa sebenar nya yang dimaksud adat ketimuran Indonesia''. Patokan apa yg dipakai sebagai ukurannya.
Akan tetapi hal ini sulit juga.. karena masing2 agama, adat istiadat, dan budaya punya standar yg kadang berbeda2. Agama A bilang gini B bilang gitu belum yg C dan D dst. belum lagi adat dan budaya. Lalu sebenarnya adakah adat ketimuran Indonesia itu?
Dulu kita kalau ngomong bahasanya tidak bisa halus orang2 tua sudah ribut, jaman anak kita anak2 sudah pakai bahasa jawa kasar, cucu sudah 100% bahasa Indonesia , jangan kaget cicit nanti pakai bahasa inggris. Dan tentu saja sopan santun serta tata kramanya yg dibawa akan lain, gak tahu gimana lagi bentuknya.
Sopan santun di setiap daerah berbeda2 Kalau orang Jawa merantau ke Maluku Batak ke Ambon dll maka adat ketimuran jawa tidak laku disana. Disana adat yg harus dipakai ya adat ketimuran setempat. Kalau ada bule pakai kutang dan cawat di pelosok2 jawa ya bisa dilempari batu padahal dipantai kuta tak ada masalah. Apakah orang 2 kuta ada something wrong ? Apakah mereka tidak punya adat ketimuran?
Di Malaysia, Brunei yg dimaksud adat ketimuran lebih kearah nilai tata keislaman. Memang didalam agama islam ada ukuran2 sopan santun dan tata krama dalam ber hablum minannas dengan standard tersendiri dan itu sudah diajarkan berabad2 dan lebih terjaga di malaysia dan brunei. Sedang di indonesia tata kerama yang demikian sudah semakin makin jauh. ?????????????????
Malu
Terkisahlah cerita dinegeri nun jauh di timur sana dimana penduduknya sedang mencari identitas diri. Sebenarnya bukan mereka tidak mempunyai identitas diri tetapi entah sudah bosan dengan dirinya, ataukah dia ingin meniru, mengidentifikasikan dirinya kepada bangsa lain yang menurutnya sudah maju. Padahal sebenarnya yang dicontoh tidak lebih baik daripada yang mencontoh, apalagi dari segi agama ataupun moralitas. Se suatu contoh yang berbasiskan kepada ke''manusia''an, demos, dimana lebih banyak menuntut hak daripada kewajiban. Nafsu2 ego bahkan id menjadi sangat dominan dibanding superego.
Keadaan itu membawa dia yang tadinya adalah bangsa yang santun, berintegritas, punya rasa malu yang tinggi, berubah menjadi bangsa yang beringas nyaris tanpa tata kerama, jauh dari rasa malu baik dalam polah tingkah ataupun perbuatan. Menjadi bangsa yang sak karepe dewe tidak bisa mengatur dirinya sendiri, apalagi diatur orang lain, bangsa yang amburadul, egoistis, individualistis dan materialistis, bangsa yang sedang merusak dirinya sendiri.
Pertanyaannya, apakah untuk menjadi baik -sesuatu bangsa - harus menjadi rusak terlebih dahulu?
Mungkin memang harus demikian takdirnya, siklus duniawi, baik, rusak, kembali baik, rusak lagi dst...... Manusiawi, jika suatu bangsa ingin selalu berubah, tetapi karena yang membimbing hanya akalnya saja, tanpa bimbingan mental yang memadai, tidak ada yang mengarahkan, agama dilupakan, sehingga keadaan yang terjadi tidak seperti yang diharapkan, bahkan amburadul, timbul kesemerawutan dimana2.
Ibarat air yang sedang berguncang kesana kemari, menurut kodratnya dia nantinya akan mencari keseimbangannya sendiri. Semoga saja... tidak malah mawut tumpah kemana2, apalagi sampai mengalir ke tempat titik nadir, mencari titik yang terendah, dimana nantinya tentu akan sulit, membutuhkan energi yang sangat besar, untuk memompanya keatas, untuk mengembalikan pada keseimbangan, pada achir posisinya yang terbaik.....
Sudah berjalan satu dekade bangsa itu ingin keluar dari masalah yang melilit dirinya, tetapi nampaknya masih jauh dari harapan bahkan persoalan makin ruwet, makin semrawut, makin tidak teratur dalam segala hal.
Para pemimpin para pemegang kekuasaan masih saja tidak merubah visi, rakyat tetap dikesampingkan, kepentingan pribadi masih sangat menonjol sehingga kebobrokan2 demi kebobrokan nampak dimana2. Peribahasa jawa '' becik ketitik ala ketara '' sudah menampakkan dirinya. Pada bangsa itu mulai tampak pemimpin yang memang memimpin dan pemimpin yang hanya mencari keuntungan pribadi. Ironisnya justru kelompok yang terahir tadi yang lebih banyak. Korupsi makin menjadi, kolusi dan nepotisme bukannya berkurang. Padahal semangat reformasi kala itu menggebu2 mau memberantas yang namanya KKN tersebut.
Entah kapan bangsa itu bisa keluar dari masalah yang membelitnya. KKN sudah menjadi budaya, tidak lagi merupakan hal yang memalukan, justru merupakan suatu kebanggaan dan dilakukan secara terang2an secara berjamaah, tidak menjadi sesuatu yang rahasia lagi.
Budaya malu sudah hilang........ sesuatu yang sangat mahal harganya, sesuatu yang dapat mecegah perbuatan2 dosa dan tercela.
'' malu sudah hilang ''.........
Mungkinkah bangsa itu-pun akan hilang?
Selasa, 08 September 2009
Pengalaman Kecil Aku Berpuasa
Masa saya kecil-kecil dulu mam& ayah saya selalu bangunian saya untuk sahur, walaupun usia saya anak ingusan loohhh. Waktu itu saya duduk didepan meja makan tepatnya dibakul nasih mama. Masih saya ingat lagi waktu itu saya selalu bertemankan bantal busuk dan sebuah botol susu yang kian menyusut.. huhu…sampai satu sudut paling pojok saya ikutlah kawan saya untuk sholat jemaah di mesjid yang lain sholat-sholatan di shaf paling belakang…….
Waktu itu kaki saya sudah capek saya duduklah dan terus tertidur sambil mengimpikan andai suatu hari kelak saya akan menjadi ahli ultraman taro..(masa tue popularlah sangat cerita-cerita garban, power ranges..) Lepas selesai menunaikan sholat mereka seorang penjaga mesjid mengejutkan saya.ha.ha.ha. Waktu itu apalagi sadisnya saya dimarahi oleh beliau. Kemarahan itu merebak dari masjid sampailah ke rumah. Sadisnya lagi peristiwa itu terbawa-bawa dalam pergaulan saya ama kawan-kawan, yang mana mereka selalu olok-olok saya dengan kejadian itu.
Aduh...tak enaknya untuk puasa...
Siang berikutnya saya bermain mutel diluar rumah bersama rakan-rakan. Saya terdengar akan pembicaran mama dan ayah saya mereka berbicara mengenai saya dan puasa. Aduh, waktu tu saya meraju dan berkata-kata didalam hati “nampaknya tak dapatlah aku tak makan yang sedap-sedap kali ini” aku pun menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak bersetuju. Maklumlah aku ini anak ke tujuh dari 8 bersaudara mana ula jadi anak manju tu..heheheheheh
Waktu subuh ayah mengejutkanku. Memanggil-manggil namaku?, langsung aku tidak mengindahkannya. Akhirnya ayah aku nyalain lampu kamar (masa tu aku memang sekali kalau waktu tidur lampu dimatikan. Heheh lampunya dari minyak tanah )..lihat aku berselubung lutut dengan kain sarung.hik..hik..Aku ketawa dalam hati sendiri hehehehe.Aku ngintip ayah dengan kain yang sedikit sobek, sedikit itu aku lihat ayah sedang menuju kea rah saya. Waktu tu aku mula ketakutan jangan-jangan di marahin lagi..Tapi aku tetap tegar membatukan diri.. Ayah pula apa lagi dengan badanya yang besar, segera menarik dan mendukung aku di atas bahunya….
Wk wk wk..waktu itu memanglah sah aku tidak dapat meloloskan diri dari ayah lagi… Sudah macam-macam tektik aku buat antaranya bersembunyi dalam lemari pakaian, buat-buat tidur mati dan sebagainya namun segala usaha aku gagal. Mana tidaknya kerana mama selalu berkata ayah adalah ahli dalam segala hal dalam mendisplinkan orang-orang bawahanya. Tapi apa mau dibuat terpaksalah hari-hari aku dikejutkan oleh mereka untuk bangkit untuk sahur..
Selalu waktu kecil berkeadaan begitu aku pun naik darah hehehhe kadang-kadang kalau di bangunin untuk sahur. Mengamuk, menangis, buat muka kasihan terus terjadilah keadaan yang tidak tentu arah disebabkan kelaparan yang amat-amat sangat . Al-maklumkah orang baru belajar berpuasalah katakan. Puas ayah dan mamaku memujuk aku supaya bertahan namun lama kelamaan aku berbuka juga akhirnya…hik..hik..
Mana ketidaknya waktu mama masak je akulah pembantu (maklumlah hanya seorang wanita di keluargaku ) penyibuknya. Bila aku selalu ikut mak, ayah solat terawih dengar ceramah ustaz cerita bab-bab dosa dan azabnya meninggalkan puasa aku mula rasa takut. Sejak itu kutanamkan niat dan semangat hendak berpuasa sampai penuh. Karena saya tahu apa upahnya ketika puasa aku penuh? Hurm..sudah tentunya satu piring asida istimewa bauatan mamaku.
Mama, ayahku seakan akur akan permintaanku. Katanya asalkan aku berpuasa penuh itu sudah memadai. Syukur Alhamdulillah kini berkat kesabaran mereka mendidiku aku kini dapat berpuasa penuh kecuali bila jepang kembali lagi ke Indonesia hehheheheh bercanda. Namun kenangan itu tetap kekal disanubariku tiap kali menjelang bulan Ramadan.
Waktu itu kaki saya sudah capek saya duduklah dan terus tertidur sambil mengimpikan andai suatu hari kelak saya akan menjadi ahli ultraman taro..(masa tue popularlah sangat cerita-cerita garban, power ranges..) Lepas selesai menunaikan sholat mereka seorang penjaga mesjid mengejutkan saya.ha.ha.ha. Waktu itu apalagi sadisnya saya dimarahi oleh beliau. Kemarahan itu merebak dari masjid sampailah ke rumah. Sadisnya lagi peristiwa itu terbawa-bawa dalam pergaulan saya ama kawan-kawan, yang mana mereka selalu olok-olok saya dengan kejadian itu.
Aduh...tak enaknya untuk puasa...
Siang berikutnya saya bermain mutel diluar rumah bersama rakan-rakan. Saya terdengar akan pembicaran mama dan ayah saya mereka berbicara mengenai saya dan puasa. Aduh, waktu tu saya meraju dan berkata-kata didalam hati “nampaknya tak dapatlah aku tak makan yang sedap-sedap kali ini” aku pun menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak bersetuju. Maklumlah aku ini anak ke tujuh dari 8 bersaudara mana ula jadi anak manju tu..heheheheheh
Waktu subuh ayah mengejutkanku. Memanggil-manggil namaku?, langsung aku tidak mengindahkannya. Akhirnya ayah aku nyalain lampu kamar (masa tu aku memang sekali kalau waktu tidur lampu dimatikan. Heheh lampunya dari minyak tanah )..lihat aku berselubung lutut dengan kain sarung.hik..hik..Aku ketawa dalam hati sendiri hehehehe.Aku ngintip ayah dengan kain yang sedikit sobek, sedikit itu aku lihat ayah sedang menuju kea rah saya. Waktu tu aku mula ketakutan jangan-jangan di marahin lagi..Tapi aku tetap tegar membatukan diri.. Ayah pula apa lagi dengan badanya yang besar, segera menarik dan mendukung aku di atas bahunya….
Wk wk wk..waktu itu memanglah sah aku tidak dapat meloloskan diri dari ayah lagi… Sudah macam-macam tektik aku buat antaranya bersembunyi dalam lemari pakaian, buat-buat tidur mati dan sebagainya namun segala usaha aku gagal. Mana tidaknya kerana mama selalu berkata ayah adalah ahli dalam segala hal dalam mendisplinkan orang-orang bawahanya. Tapi apa mau dibuat terpaksalah hari-hari aku dikejutkan oleh mereka untuk bangkit untuk sahur..
Selalu waktu kecil berkeadaan begitu aku pun naik darah hehehhe kadang-kadang kalau di bangunin untuk sahur. Mengamuk, menangis, buat muka kasihan terus terjadilah keadaan yang tidak tentu arah disebabkan kelaparan yang amat-amat sangat . Al-maklumkah orang baru belajar berpuasalah katakan. Puas ayah dan mamaku memujuk aku supaya bertahan namun lama kelamaan aku berbuka juga akhirnya…hik..hik..
Mana ketidaknya waktu mama masak je akulah pembantu (maklumlah hanya seorang wanita di keluargaku ) penyibuknya. Bila aku selalu ikut mak, ayah solat terawih dengar ceramah ustaz cerita bab-bab dosa dan azabnya meninggalkan puasa aku mula rasa takut. Sejak itu kutanamkan niat dan semangat hendak berpuasa sampai penuh. Karena saya tahu apa upahnya ketika puasa aku penuh? Hurm..sudah tentunya satu piring asida istimewa bauatan mamaku.
Mama, ayahku seakan akur akan permintaanku. Katanya asalkan aku berpuasa penuh itu sudah memadai. Syukur Alhamdulillah kini berkat kesabaran mereka mendidiku aku kini dapat berpuasa penuh kecuali bila jepang kembali lagi ke Indonesia hehheheheh bercanda. Namun kenangan itu tetap kekal disanubariku tiap kali menjelang bulan Ramadan.
at
Selasa, September 08, 2009
Posted by
JAMIL PATTY
0
comments
Labels:
KECIL AKU BERPUASA. Jamil Patty. pati toki
Senin, 07 September 2009
Di Hari Minggu
Kriinnnggg jam weker berbunyi kira-kira sekitar jam 05.00 pagi tandanya untuk melaksanakan perintah yang Maha Kuasa (shalat shubuh). Padahal waktu shubuh untuk daerah Selangor adalah jam 06,00 tapi biarlah saya shalat jam 06.00, untuk ke masjid dari rumah lumayan jauh Aku beranjak dari tempat tidur dan mengambil air wudhu, yaa lumayanlah air di Selangor/ Malaysia cukup dingin untuk pagi hari. Setelah melaksanakan shalat shubuh aku pun kembali untuk beristirahat karena malamnya tidurku sampai larut. Kira-kira jam 10.00 aku bangun dan teringat bahwa hari ahad ini aku dan teman-teman ku untuk lari pagi.
Memeng hari Minggu, enaknya tidur. Tapi lebih enak lagi lari pagi di kompleks (kata kawan). Biasanya, lari pagi aku selalu berakhir kembali di tempat tidur..hehehhe, kalau saya lari pagi selalu singgah sebentar diwarung Mulajid, pemiliknya berketurunan India yang beragama Islam, di warung itu saya membeli air mineral dan beberapa keperluan untuk sarapan pagi nanti, warung pak Mulajid Selalu begitu, tidak ada yang baru dan yang beda dari isi warungnya.
Tapi hari Minggu ini beda.
Pertama, lari pagi lagi setelah hampir sebulan males-malesan di kasur, dengan alasan Matahari sembunyi terus di balik awan. Pagi itu lari pagi, aku melihat orang hampir baku hantam. Gara-garanya apa nggak jelas. Sepertinya ada seorang bapak yang marah kepada panitia turnamen sepakbola cilik antar. Mungkin marah karena track jogging mau ditutup. “Saya ini pelari maraton Maluku hehehehheh (mampus kali yeee kalau jadi pelari) Pak! Saya ngerti soal lari!” semprot si Bapak. Karena dua orang itu hanya tarik-tarikan tangan dan nggak jadi berkelahi, aku lantas berlalu saja.
eeeh, baru jalan 5 meter, aku melihat orang-orang berkerumun di dekat area pemanasan sebelah selatan (dekat gerbang ke terowongan). Tampak beberapa pria melepaskan lempeng penutup got satu per satu. Wah, ternyata ada anak perempuan yang kakinya terjepit lubang di celah-celah antar lempeng itu.Akhirnya lepas juga kaki anak itu. Untung dia perempuan, ga banyak gerak, jadi kakinya nggak patah atau terkilir. Untungnya lagi, anak ini nggak cengeng. “Udah nggak apa-apa ya De’. Yang salah lubangnya kok,” ujar sang ibu sambil mengelus-elus kaki anaknya. Kasihan ya lubangnya, kan dia juga nggak salah apa-apa.
selepas lari langsung nyuci tumpukan pakaian sisa seminar pekan lalu. Padahal biasanya sampe rumah langsung tidur. Aku nyuci sampai 13 potong. Padahal biasanya cuman nyuci 6-8 potong.Habis nyuci aku ke kawan. Soalnya malamnya ada urusan penting banget pokoknya. Hari sudah menjelang sore. Sehabis Asar, waktu mau naik ke lantai 2, si Sari (anak baru Crayon dan Karisma) nawarin jualannya: makanan-minuman ringan. Ada gelas plastik berisi cairan yang warnanya mirip cat tembok. Langsung saya tolak. Karena disodorin terus, akhirnya kubeli juga yang kelihatan warna coklat. Nah, begitu aku mau minum itu minuman di depan komputer, Firman) nyeletuk, “Apaan tuh?”. “Nggak tahu, tadi beli di bawah, kayaknya sih coklat,” jawabku. “Itu bukannya pop ice? Iiih, Salim minum pop ice. Itu kan minuman anak SD hhehehehheheheh…..ternyata hhehehheh
Memeng hari Minggu, enaknya tidur. Tapi lebih enak lagi lari pagi di kompleks (kata kawan). Biasanya, lari pagi aku selalu berakhir kembali di tempat tidur..hehehhe, kalau saya lari pagi selalu singgah sebentar diwarung Mulajid, pemiliknya berketurunan India yang beragama Islam, di warung itu saya membeli air mineral dan beberapa keperluan untuk sarapan pagi nanti, warung pak Mulajid Selalu begitu, tidak ada yang baru dan yang beda dari isi warungnya.
Tapi hari Minggu ini beda.
Pertama, lari pagi lagi setelah hampir sebulan males-malesan di kasur, dengan alasan Matahari sembunyi terus di balik awan. Pagi itu lari pagi, aku melihat orang hampir baku hantam. Gara-garanya apa nggak jelas. Sepertinya ada seorang bapak yang marah kepada panitia turnamen sepakbola cilik antar. Mungkin marah karena track jogging mau ditutup. “Saya ini pelari maraton Maluku hehehehheh (mampus kali yeee kalau jadi pelari) Pak! Saya ngerti soal lari!” semprot si Bapak. Karena dua orang itu hanya tarik-tarikan tangan dan nggak jadi berkelahi, aku lantas berlalu saja.
eeeh, baru jalan 5 meter, aku melihat orang-orang berkerumun di dekat area pemanasan sebelah selatan (dekat gerbang ke terowongan). Tampak beberapa pria melepaskan lempeng penutup got satu per satu. Wah, ternyata ada anak perempuan yang kakinya terjepit lubang di celah-celah antar lempeng itu.Akhirnya lepas juga kaki anak itu. Untung dia perempuan, ga banyak gerak, jadi kakinya nggak patah atau terkilir. Untungnya lagi, anak ini nggak cengeng. “Udah nggak apa-apa ya De’. Yang salah lubangnya kok,” ujar sang ibu sambil mengelus-elus kaki anaknya. Kasihan ya lubangnya, kan dia juga nggak salah apa-apa.
selepas lari langsung nyuci tumpukan pakaian sisa seminar pekan lalu. Padahal biasanya sampe rumah langsung tidur. Aku nyuci sampai 13 potong. Padahal biasanya cuman nyuci 6-8 potong.Habis nyuci aku ke kawan. Soalnya malamnya ada urusan penting banget pokoknya. Hari sudah menjelang sore. Sehabis Asar, waktu mau naik ke lantai 2, si Sari (anak baru Crayon dan Karisma) nawarin jualannya: makanan-minuman ringan. Ada gelas plastik berisi cairan yang warnanya mirip cat tembok. Langsung saya tolak. Karena disodorin terus, akhirnya kubeli juga yang kelihatan warna coklat. Nah, begitu aku mau minum itu minuman di depan komputer, Firman) nyeletuk, “Apaan tuh?”. “Nggak tahu, tadi beli di bawah, kayaknya sih coklat,” jawabku. “Itu bukannya pop ice? Iiih, Salim minum pop ice. Itu kan minuman anak SD hhehehehheheheh…..ternyata hhehehheh
Rabu, 02 September 2009
Bahasa Tetun: Bahasa Resmi Termuda di Planet Kita
OLEH: YOHANES MANHITU
Mengamati sebuah bahasa tulis yang sedang bertumbuh laksana sebutir padi ternyata sangat mengasyikkan, paling kurang dari sudut pandang seorang penikmat atau pemerhati bahasa. Bila Anda merasa tertarik untuk mengamati dan menyaksikan proses berkembangnya sebuah bahasa resmi yang baru, menurut hemat penulis, inilah saat yang paling tepat dan sebaiknya tak dilewatkan begitu saja, karena di ujung timur wilayah Indonesia, tepatnya di Timor-Leste, sedang berkembang bahasa Tetun (biasanya dieja Tetum dalam beberapa sumber asing).
Bahasa Tetun, bahasa Austronesia yang paling luas digunakan di Timor-Leste, kini menjadi salah satu bahasa terkemuka di negara tersebut sejak ditetapkan secara resmi dalam konstitusi negara baru ini. Walau secara de jure usianya masih sangat muda, secara de facto, bahasa ini telah lama memainkan peranan yang amat penting di negeri tersebut sebagai bahasa pengantar di antara penutur bahasa-bahasa yang berbeda. Karena itu, dapat dipahami apabila di kemudian hari bahasa ini ditetapkan sebagai bahasa resmi.
Bahasa ini digunakan (pada umumnya secara lisan) di tiga wilayah terpisah: 1) sebuah bentangan wilayah dari Selat Ombai hingga Laut Timor dan dipisahkan oleh batas wilayah Timor Timur dan Timor Barat (wilayah berbahasa Tetun Belu) dan termasuk Atapupu dan Atambua (di wilayah Timor Barat), Balibo, Fatumean, Fohoren dan Suai (di wilayah Timor Timur); 2) daerah pantai selatan sekitar Alas, Luca dan Viqueque dan termasuk dua kerajaan tua Samoro dan Soibada (yang berbahasa Tetun Terik); 3) Kota Dili dan sekitarnya (Tetun Prasa).
Beberapa sumber dan bukti historis menyebutkan bahwa bahasa Tetun Prasa merupakan bentuk simplifikasi dari bentuk yang telah ada sebelumnya. Sejak orang-orang Portugis tiba di Dili, setelah meninggalkan Lifau (yang berbahasa Dawan/Baikenu/Uab Meto) di bawah pimpinan Antonio Jose Telles de Menzes pada malam 11 Agustus 1769 untuk menghindari ancaman orang-orang Topass (Portugis Hitam) di sana, bentuk simplifikasi inilah yang dijadikan bahasa pengantar dalam kegiatan perdagangan dan pergaulan di wilayah timur Pulau Timor ini. Disebutkan pula bahwa sejumlah misionaris Katolik telah menggunakannya sebagai bahasa pengantar dalam tugas pengabaran Injil (Evangelisasi). Semenjak tidak digunakannya lagi bahasa Portugis sebagai bahasa liturgis (sekitar tahun 1980), bahasa Tetun mengambil alih posisi ini. Dikatakan bahwa telah ada berbagai upaya penerjemahan ke bahasa Tetun sejak dahulu kala, terutama untuk keperluan ibadat Katolik.
Berbeda dari bahasa Tetun Belu – dialek bahasa Tetun yang digunakan di Kabupaten Belu, NTT – yang memiliki banyak kata pungutan dari bahasa Indonesia, bahasa Tetun Prasa memiliki sangat banyak kata pungutan dari bahasa Portugis. Misalnya: merkadu dari mercado (pasar); livru dari livro (buku); komunikasaun dari comunicação (komunikasi); nasaun dari nação (bangsa), dll. Bahkan struktur bahasanya pun sudah dipengaruhi oleh bahasa Eropa tersebut. Konon, ini merupakan hasil upaya Portugis untuk menyebarluaskan bahasanya pada paro kedua abad ke-19.
Sebelum kehadiran República Democrática de Timor-Leste/Republik Demokratik Timor-Leste (RDTL), terutama ketika wilayah ini masih menjadi salah satu provinsi Indonesia, status bahasa Tetun Prasa sebagai bahasa metropolitan telah memberi kebanggaan tersendiri bagi mereka yang menggunakannya. Hal ini barangkali menjadi salah satu faktor yang menyebabkan bahasa ini menyebar relatif cepat ke berbagai pelosok Rai Timór Lorosa’e (sebutan lain untuk Timor-Leste). Tidak sedikit orang yang menggunakannya dalam berbagai situasi kehidupan sehari-hari di samping bahasa daerah mereka sendiri dan bahasa Indonesia. Di dalam masyarakat multibahasa seperti di Timor-Leste, bilingualisme dan multilingualisme boleh dipandang sebagai hal yang lumrah.
Bahasa Tetun termasuk bahasa yang relatif mudah dipelajari, khususnya bagi orang Indonesia, karena alasan-alasan umum berikut ini:
Struktur bahasa sangat mirip dengan yang dimiliki bahasa Indonesia. Misalnya:
Ha’u hakerek surat ida ba ha’u-nia doben = Saya menulis (sepucuk) surat untuk kekasih saya.
Ami lakohi sa’e kuda ho labarik sira = Kami tidak mau menunggang kuda dengan anak-anak.
Tansá mak imi la mai sedu? = Mengapa kalian tidak datang lebih awal?
Tidak adanya tenses yang “ketat”, seperti dalam bahasa Inggris dan bahasa-bahasa Eropa yang lain. “Waktu” dalam kalimat ditunjukkan dengan kata keterangan waktu dan kata kerja bantu. Misalnya:
Horisehik sira estuda inglés = Tadi malam mereka belajar bahasa Inggris.
Agora nia joga bola = Sekarang dia sedang bermain bola.
Aban ami sei bá (iha) univeridade = Besok kami akan pergi ke universitas.
Bainaka sira hemu tiha ona = Para tamu sudah minum.
Jumlah imbuhannya sedikit dan mudah dihafal. Misalnya:
Sira toba ona = Mereka sudah tidur. Nia seidauk hatoba bebé = Ia belum menidurkan bayi.
Sé mak sunu uma ida-ne’e? = Siapa yang membakar rumah ini? Uma ida-ne’ebá la naksunu = Rumah itu tidak terbakar.
Nia sura loron no kalan = Ia menghitung siang dan malam. Ó-nia sasurak sala = Perhitunganmu salah.
Keta halo ami susar = Jangan buat kami susah. Hadi’a lai ó-nia hahalok = Perbaikilah perbuatanmu. Nia mak mahalok loos = Dia adalah pembuat yang sesungguhnya.
Karena alasan-alasan di atas, kebanyakan orang luar yang pernah bermukim di Timor-Leste bisa – paling kurang secara pasif – mengerti bahasa ini. Seorang asing/pendatang baru yang cepat beradaptasi dengan budaya lokal, misalnya dengan rajin menghadiri misa dalam bahasa Tetun (bagi yang beragama Katolik), gemar berdansa dan menyukai musik Tetun, atau turut dalam aktivitas sosial lainnya, akan segera mahir berbahasa Tetun. Bagi seseorang di luar RDTL, media internet dapat mempermudah usahanya untuk belajar bahasa tersebut. Penutur bahasa Tetun yang cukup banyak di Indonesia pada umumnya senang bila diajak bercakap-cakap dalam bahasa mereka. Dan kemungkinan tidak sedikit pula warga Indonesia non-Timor-Leste yang pernah bermukim di Timor-Leste dapat berbahasa Tetun.
Berdasarkan pengamatan penulis terhadap berbagai sumber media siber, dapat dikatakan bahwa bahasa Tetun di Timor-Leste berkembang pesat. Hal ini dapat dibuktikan dengan kian bertambahnya jumlah kosa kata baru – terutama dari bahasa Portugis – yang diadopsi ke dalam bahasa Tetun dari waktu ke waktu, terlebih setelah berdirinya negara baru Timor-Leste.
Dialek
Perlu kita melihat beberapa dialek bahasa Tetun. Cliff Moris (sebagaimana tercantum pada sebuah situs internet) telah mengelompokkan dialek-dialek tersebut ke dalam kategori berikut:
Tetun Loos (Tetun Murni/Tulen)
Dialek ini digunakan oleh para penutur di sekitar Soibada dan Kerajaan Samoro serta di sepanjang pesisir antara Alas dan Luca.
Tetun Terik
Digunakan di wilayah baratlaut dan timurlaut Timor Timur dan Timor Barat. Dialek ini sangat dekat dengan Tetun Belu.
Tetun Belu
Digunakan di wilayah baratdaya Timor Timur dan juga tenggara Timor Barat.
Tetun Prasa/Tetun Dili
Adalah dialek yang digunakan di Dili, berstatus dialek metropolitan, bersifat lebih sederhana dalam strukturnya serta diperkaya dengan kosakata dari bahasa Portugis – yang jumlahnya semakin banyak – dan bahasa Tetun Terik. Dialek inilah kemudian berkembang dan distandardisasi menjadi bahasa resmi.
Ejaan
Hingga saat ini banyak tulisan yang menggunakan ejaan yang berbeda-beda walaupun telah ada ejaan baku (ortografia patronizada) bahasa Tetun, sebagaimana yang tertera pada Matadalan Ortográfiku ba Lia-Tetun dan sumber-sumber resmi lain yang diterbitkan Instituto Nacional de LinguÃstica, lembaga kebahasaan resmi yang bertanggung jawab penuh atas pengembangan bahasa Tetun di Timor-Leste. Dan untuk menghindari kebingungan pengucapan dan penulisan, kami mencoba menolong para pembaca dengan petunjuk-petunjuk berikut:
Bunyi vokal panjang pada setiap kata Tetun akan ditandai dengan vokal rangkap aa, ee, ii, uu, atau oo. Misalnya aas (tinggi), bee (air), liis (bawang), nuu (kelapa), atau nonook (diam).
Tekanan/aksen vokal pada setiap kata Tetun (baik asli maupun serapan) akan ditandai dengan aksen akut: á, é, Ã, ú, atau ó. Misalnya manán (menang), nasionál (nasional), portugés (bahasa Portugis), abó (kakek/nenek), dll.
Bunyi hamzah (perpindahan dua vokal, baik yang sejenis maupun tidak) pada setiap kata Tetun, akan ditandai dengan penempatan apostrof (’). Misalnya to’os (kebun/ladang), di’ak (baik/sehat), ta’uk (takut), dll.
Berdasarkan pengamatan penulis terhadap sebagian besar kata serapan (dari bahasa Portugis) dan nonserapan pada sumber-sumber pustaka yang ada, dapat disimpulkan kaidah umum berikut ini:
Huruf c yang diikuti huruf a, u, atau o, serta huruf q pada setiap kata Portugis yang diserap diganti dengan huruf k. Misalnya condição >> kondisaun (kondisi); qualidade >> kualidade (kualitas).
Huruf c yang diikuti huruf e atau i, serta huruf ç pada setiap kata Portugis yang diserap diganti dengan huruf s. Misalnya censo >> sensu (sensus); educação >> edukasaun (pendidikan).
Huruf g yang diikuti huruf e atau i pada setiap kata Portugis yang diserap diganti dengan huruf j. Misalnya geral >> jerál (umum); ginástica >> jinástika (senam).
Huruf h pada awal kata hilang pada kata serapan. Misalnya hospital >> ospitál (rumah sakit).
Huruf –o pada akhir kata digantikan dengan huruf –u. Misalnya caso >> kazu (kasus).
Huruf rangkap ch diganti dengan huruf x. Misalnya chefe >> xefe (kepala/bos).
Huruf s di antara dua vokal diganti dengan huruf z. Misalnya presidente >> prezidente (presiden).
Huruf vokal rangkap –ão pada setiap kata Portugis yang diserap diganti dengan –aun. Misalnya condição >> kondisaun.
Akhiran –ismo menjadi –izmu. Misalnya terrorismo >> terrorizmu (terorisme).
Kata benda serapan dengan akhiran –u, –ór pada umumnya berpasangan dengan kata sifat dengan akhiran –u, atau –ór bila diikuti kata sifat yang berjenis kelamin. Misalnya kompostu kÃmiku = senyawa kimia; profesór eméritu = profesor emeritus; grupu ameasadór = kelompok yang mengancam.
Kata benda serapan dengan akhiran –a, –ora, –aun, –dade pada umumnya berpasangan dengan kata sifat dengan akhiran –a, atau –ora, bila diikuti kata sifat yang berjenis kelamin. Misalnya Igreja Katólika = Gereja Katolik; enerjia pozitiva = energi positif; peskizadora sientÃfika = peneliti ilmiah; aspirasaun polÃtika; fasilidade públika = fasilitas umum; profesora konservadora = guru wanita yang konservatif.
Berkaitan dengan kedua butir di atas, kata benda yang ‘asli’ (nonserapan) Tetun umumnya berpasangan dengan kata sifat dengan akhiran –u. Misalnya liafuan poétiku sira = kata-kata puitis; hanoin lójiku = pikiran yang logis; buat komplikadu = hal yang ruwet.
Semua kata benda serapan dapat diikuti kata-kata sifat nonserapan. Misalnya problema boot = masalah besar; esplikasaun badak = penjelasan singkat; nasaun hakmatek = bangsa yang tenteram; literatura rai-na’in = sastra pribumi.
Semua kata benda nonserapan dan serapan dapat diikuti semua kata sifat non’jenis kelamin’ (bukan –u, –a, –ór, atau –ora). Misalnya orgaun importante = organ penting; ema pesimista = orang yang pesimistis; moris sosiál = kehidupan sosial; komunikasaun orál = komunikasi lisan; parte vitál = bagian vital; hahalok simples = sikap yang sederhana; hahán prinsipál = makanan pokok; lian nasionál = bahasa nasional.
Sejumlah kata sifat serapan yang berjenis kelamin dapat mengikuti kata benda nonserapan. Misalnya mane garridu = laki-laki genit; feto garrida = perempuan genit; mane bonitu = laki-laki tampan; feto bonita = perempuan cantik.
Sejumlah kata sifat yang dengan akhiran –ór (yang dibentuk dari kata kerja serapan atau nonserapan dan akiran –ór) dapat mengikuti semua subjek, baik maskulin maupun feminin. Misalnya feto-raan gastadór = gadis pemboros; feto koaliadór = perempuan yang ceriwis; mane sisidór = pria yang banyak menuntut; katuas serbisudór = lelaki tua yang suka bekerja keras; ferik rezadór sira = para perempuan tua yang rajin berdoa.
Status
Sesuai dengan pasal 13 ayat 1 dan 2 Konstitusi RDTL tentang bahasa resmi dan bahasa nasional, yang berbunyi: 1. Repúblika Demokrátika Timór-Leste nia lian ofisiál maka Tetun no Portugés (Bahasa-bahasa resmi Republik Demokratik Timor-Leste adalah bahasa Tetun dan Portugis); 2. Estadu valoriza no dezenvolve Tetun no lian nasionál sira seluk (Negara menghargai dan mengembangkan bahasa Tetun dan bahasa-bahasa nasional lainnya), bahasa Tetun berstatus sebagai bahasa ko-resmi (dengan bahasa Portugis) dan bahasa nasional (bersama-sama dengan bahasa-bahasa nasional lainnya).
Penggunaan
Menurut sumber-sumber elektronik (siber), dalam masa perkembangannya, ketika bahasa Tetun belum mampu memenuhi fungsinya pada bidang-bidang kehidupan tertentu, ia ditopang oleh bahasa Portugis sebagai ko-bahasa resmi. Namun, upaya-upaya demi pemaksimalan fungsinya terus-menerus dilakukan. Kiranya kita dapat memaklumi panjangnya waktu yang dibutuhkan sebuah bahasa untuk dapat secara maksimal memenuhi kebutuhan para penuturnya. Bahasa lahir dari masyarakat penuturnya dan akan didewasakan oleh masyarakat itu pula. Kini, laksana sesosok bayi bahasa tulis, bahasa Tetun membutuhkan bimbingan dan tuntutan dalam perjalanan panjangnya. Diperlukan pula kesabaran dan rasa bangga yang tak pudar untuk mengantarnya ke masa depan.
Dewasa ini bahasa Tetun seakan-akan bukan bahasa asing di Indonesia karena terdapat cukup banyak warga negara kita – khususnya yang berasal dari Timor-Leste – yang menggunakannya sebagai bahasa ibu, atau bahasa kedua. Di Timor bagian barat, misalnya, kehadiran bahasa ini mulai terasa sejak kedatangan saudara-saudari dari ex Provinsi Timor Timur. Jadi, disadari atau tidak, pada saat ini bahasa Tetun juga sedang berkembang di Indonesia, di antara bahasa-bahasa lain yang tersebar di seluruh Nusantara.
Penulis: Peminat bahasa dan sastra, tinggal di Yogyakarta
Mengamati sebuah bahasa tulis yang sedang bertumbuh laksana sebutir padi ternyata sangat mengasyikkan, paling kurang dari sudut pandang seorang penikmat atau pemerhati bahasa. Bila Anda merasa tertarik untuk mengamati dan menyaksikan proses berkembangnya sebuah bahasa resmi yang baru, menurut hemat penulis, inilah saat yang paling tepat dan sebaiknya tak dilewatkan begitu saja, karena di ujung timur wilayah Indonesia, tepatnya di Timor-Leste, sedang berkembang bahasa Tetun (biasanya dieja Tetum dalam beberapa sumber asing).
Bahasa Tetun, bahasa Austronesia yang paling luas digunakan di Timor-Leste, kini menjadi salah satu bahasa terkemuka di negara tersebut sejak ditetapkan secara resmi dalam konstitusi negara baru ini. Walau secara de jure usianya masih sangat muda, secara de facto, bahasa ini telah lama memainkan peranan yang amat penting di negeri tersebut sebagai bahasa pengantar di antara penutur bahasa-bahasa yang berbeda. Karena itu, dapat dipahami apabila di kemudian hari bahasa ini ditetapkan sebagai bahasa resmi.
Bahasa ini digunakan (pada umumnya secara lisan) di tiga wilayah terpisah: 1) sebuah bentangan wilayah dari Selat Ombai hingga Laut Timor dan dipisahkan oleh batas wilayah Timor Timur dan Timor Barat (wilayah berbahasa Tetun Belu) dan termasuk Atapupu dan Atambua (di wilayah Timor Barat), Balibo, Fatumean, Fohoren dan Suai (di wilayah Timor Timur); 2) daerah pantai selatan sekitar Alas, Luca dan Viqueque dan termasuk dua kerajaan tua Samoro dan Soibada (yang berbahasa Tetun Terik); 3) Kota Dili dan sekitarnya (Tetun Prasa).
Beberapa sumber dan bukti historis menyebutkan bahwa bahasa Tetun Prasa merupakan bentuk simplifikasi dari bentuk yang telah ada sebelumnya. Sejak orang-orang Portugis tiba di Dili, setelah meninggalkan Lifau (yang berbahasa Dawan/Baikenu/Uab Meto) di bawah pimpinan Antonio Jose Telles de Menzes pada malam 11 Agustus 1769 untuk menghindari ancaman orang-orang Topass (Portugis Hitam) di sana, bentuk simplifikasi inilah yang dijadikan bahasa pengantar dalam kegiatan perdagangan dan pergaulan di wilayah timur Pulau Timor ini. Disebutkan pula bahwa sejumlah misionaris Katolik telah menggunakannya sebagai bahasa pengantar dalam tugas pengabaran Injil (Evangelisasi). Semenjak tidak digunakannya lagi bahasa Portugis sebagai bahasa liturgis (sekitar tahun 1980), bahasa Tetun mengambil alih posisi ini. Dikatakan bahwa telah ada berbagai upaya penerjemahan ke bahasa Tetun sejak dahulu kala, terutama untuk keperluan ibadat Katolik.
Berbeda dari bahasa Tetun Belu – dialek bahasa Tetun yang digunakan di Kabupaten Belu, NTT – yang memiliki banyak kata pungutan dari bahasa Indonesia, bahasa Tetun Prasa memiliki sangat banyak kata pungutan dari bahasa Portugis. Misalnya: merkadu dari mercado (pasar); livru dari livro (buku); komunikasaun dari comunicação (komunikasi); nasaun dari nação (bangsa), dll. Bahkan struktur bahasanya pun sudah dipengaruhi oleh bahasa Eropa tersebut. Konon, ini merupakan hasil upaya Portugis untuk menyebarluaskan bahasanya pada paro kedua abad ke-19.
Sebelum kehadiran República Democrática de Timor-Leste/Republik Demokratik Timor-Leste (RDTL), terutama ketika wilayah ini masih menjadi salah satu provinsi Indonesia, status bahasa Tetun Prasa sebagai bahasa metropolitan telah memberi kebanggaan tersendiri bagi mereka yang menggunakannya. Hal ini barangkali menjadi salah satu faktor yang menyebabkan bahasa ini menyebar relatif cepat ke berbagai pelosok Rai Timór Lorosa’e (sebutan lain untuk Timor-Leste). Tidak sedikit orang yang menggunakannya dalam berbagai situasi kehidupan sehari-hari di samping bahasa daerah mereka sendiri dan bahasa Indonesia. Di dalam masyarakat multibahasa seperti di Timor-Leste, bilingualisme dan multilingualisme boleh dipandang sebagai hal yang lumrah.
Bahasa Tetun termasuk bahasa yang relatif mudah dipelajari, khususnya bagi orang Indonesia, karena alasan-alasan umum berikut ini:
Struktur bahasa sangat mirip dengan yang dimiliki bahasa Indonesia. Misalnya:
Ha’u hakerek surat ida ba ha’u-nia doben = Saya menulis (sepucuk) surat untuk kekasih saya.
Ami lakohi sa’e kuda ho labarik sira = Kami tidak mau menunggang kuda dengan anak-anak.
Tansá mak imi la mai sedu? = Mengapa kalian tidak datang lebih awal?
Tidak adanya tenses yang “ketat”, seperti dalam bahasa Inggris dan bahasa-bahasa Eropa yang lain. “Waktu” dalam kalimat ditunjukkan dengan kata keterangan waktu dan kata kerja bantu. Misalnya:
Horisehik sira estuda inglés = Tadi malam mereka belajar bahasa Inggris.
Agora nia joga bola = Sekarang dia sedang bermain bola.
Aban ami sei bá (iha) univeridade = Besok kami akan pergi ke universitas.
Bainaka sira hemu tiha ona = Para tamu sudah minum.
Jumlah imbuhannya sedikit dan mudah dihafal. Misalnya:
Sira toba ona = Mereka sudah tidur. Nia seidauk hatoba bebé = Ia belum menidurkan bayi.
Sé mak sunu uma ida-ne’e? = Siapa yang membakar rumah ini? Uma ida-ne’ebá la naksunu = Rumah itu tidak terbakar.
Nia sura loron no kalan = Ia menghitung siang dan malam. Ó-nia sasurak sala = Perhitunganmu salah.
Keta halo ami susar = Jangan buat kami susah. Hadi’a lai ó-nia hahalok = Perbaikilah perbuatanmu. Nia mak mahalok loos = Dia adalah pembuat yang sesungguhnya.
Karena alasan-alasan di atas, kebanyakan orang luar yang pernah bermukim di Timor-Leste bisa – paling kurang secara pasif – mengerti bahasa ini. Seorang asing/pendatang baru yang cepat beradaptasi dengan budaya lokal, misalnya dengan rajin menghadiri misa dalam bahasa Tetun (bagi yang beragama Katolik), gemar berdansa dan menyukai musik Tetun, atau turut dalam aktivitas sosial lainnya, akan segera mahir berbahasa Tetun. Bagi seseorang di luar RDTL, media internet dapat mempermudah usahanya untuk belajar bahasa tersebut. Penutur bahasa Tetun yang cukup banyak di Indonesia pada umumnya senang bila diajak bercakap-cakap dalam bahasa mereka. Dan kemungkinan tidak sedikit pula warga Indonesia non-Timor-Leste yang pernah bermukim di Timor-Leste dapat berbahasa Tetun.
Berdasarkan pengamatan penulis terhadap berbagai sumber media siber, dapat dikatakan bahwa bahasa Tetun di Timor-Leste berkembang pesat. Hal ini dapat dibuktikan dengan kian bertambahnya jumlah kosa kata baru – terutama dari bahasa Portugis – yang diadopsi ke dalam bahasa Tetun dari waktu ke waktu, terlebih setelah berdirinya negara baru Timor-Leste.
Dialek
Perlu kita melihat beberapa dialek bahasa Tetun. Cliff Moris (sebagaimana tercantum pada sebuah situs internet) telah mengelompokkan dialek-dialek tersebut ke dalam kategori berikut:
Tetun Loos (Tetun Murni/Tulen)
Dialek ini digunakan oleh para penutur di sekitar Soibada dan Kerajaan Samoro serta di sepanjang pesisir antara Alas dan Luca.
Tetun Terik
Digunakan di wilayah baratlaut dan timurlaut Timor Timur dan Timor Barat. Dialek ini sangat dekat dengan Tetun Belu.
Tetun Belu
Digunakan di wilayah baratdaya Timor Timur dan juga tenggara Timor Barat.
Tetun Prasa/Tetun Dili
Adalah dialek yang digunakan di Dili, berstatus dialek metropolitan, bersifat lebih sederhana dalam strukturnya serta diperkaya dengan kosakata dari bahasa Portugis – yang jumlahnya semakin banyak – dan bahasa Tetun Terik. Dialek inilah kemudian berkembang dan distandardisasi menjadi bahasa resmi.
Ejaan
Hingga saat ini banyak tulisan yang menggunakan ejaan yang berbeda-beda walaupun telah ada ejaan baku (ortografia patronizada) bahasa Tetun, sebagaimana yang tertera pada Matadalan Ortográfiku ba Lia-Tetun dan sumber-sumber resmi lain yang diterbitkan Instituto Nacional de LinguÃstica, lembaga kebahasaan resmi yang bertanggung jawab penuh atas pengembangan bahasa Tetun di Timor-Leste. Dan untuk menghindari kebingungan pengucapan dan penulisan, kami mencoba menolong para pembaca dengan petunjuk-petunjuk berikut:
Bunyi vokal panjang pada setiap kata Tetun akan ditandai dengan vokal rangkap aa, ee, ii, uu, atau oo. Misalnya aas (tinggi), bee (air), liis (bawang), nuu (kelapa), atau nonook (diam).
Tekanan/aksen vokal pada setiap kata Tetun (baik asli maupun serapan) akan ditandai dengan aksen akut: á, é, Ã, ú, atau ó. Misalnya manán (menang), nasionál (nasional), portugés (bahasa Portugis), abó (kakek/nenek), dll.
Bunyi hamzah (perpindahan dua vokal, baik yang sejenis maupun tidak) pada setiap kata Tetun, akan ditandai dengan penempatan apostrof (’). Misalnya to’os (kebun/ladang), di’ak (baik/sehat), ta’uk (takut), dll.
Berdasarkan pengamatan penulis terhadap sebagian besar kata serapan (dari bahasa Portugis) dan nonserapan pada sumber-sumber pustaka yang ada, dapat disimpulkan kaidah umum berikut ini:
Huruf c yang diikuti huruf a, u, atau o, serta huruf q pada setiap kata Portugis yang diserap diganti dengan huruf k. Misalnya condição >> kondisaun (kondisi); qualidade >> kualidade (kualitas).
Huruf c yang diikuti huruf e atau i, serta huruf ç pada setiap kata Portugis yang diserap diganti dengan huruf s. Misalnya censo >> sensu (sensus); educação >> edukasaun (pendidikan).
Huruf g yang diikuti huruf e atau i pada setiap kata Portugis yang diserap diganti dengan huruf j. Misalnya geral >> jerál (umum); ginástica >> jinástika (senam).
Huruf h pada awal kata hilang pada kata serapan. Misalnya hospital >> ospitál (rumah sakit).
Huruf –o pada akhir kata digantikan dengan huruf –u. Misalnya caso >> kazu (kasus).
Huruf rangkap ch diganti dengan huruf x. Misalnya chefe >> xefe (kepala/bos).
Huruf s di antara dua vokal diganti dengan huruf z. Misalnya presidente >> prezidente (presiden).
Huruf vokal rangkap –ão pada setiap kata Portugis yang diserap diganti dengan –aun. Misalnya condição >> kondisaun.
Akhiran –ismo menjadi –izmu. Misalnya terrorismo >> terrorizmu (terorisme).
Kata benda serapan dengan akhiran –u, –ór pada umumnya berpasangan dengan kata sifat dengan akhiran –u, atau –ór bila diikuti kata sifat yang berjenis kelamin. Misalnya kompostu kÃmiku = senyawa kimia; profesór eméritu = profesor emeritus; grupu ameasadór = kelompok yang mengancam.
Kata benda serapan dengan akhiran –a, –ora, –aun, –dade pada umumnya berpasangan dengan kata sifat dengan akhiran –a, atau –ora, bila diikuti kata sifat yang berjenis kelamin. Misalnya Igreja Katólika = Gereja Katolik; enerjia pozitiva = energi positif; peskizadora sientÃfika = peneliti ilmiah; aspirasaun polÃtika; fasilidade públika = fasilitas umum; profesora konservadora = guru wanita yang konservatif.
Berkaitan dengan kedua butir di atas, kata benda yang ‘asli’ (nonserapan) Tetun umumnya berpasangan dengan kata sifat dengan akhiran –u. Misalnya liafuan poétiku sira = kata-kata puitis; hanoin lójiku = pikiran yang logis; buat komplikadu = hal yang ruwet.
Semua kata benda serapan dapat diikuti kata-kata sifat nonserapan. Misalnya problema boot = masalah besar; esplikasaun badak = penjelasan singkat; nasaun hakmatek = bangsa yang tenteram; literatura rai-na’in = sastra pribumi.
Semua kata benda nonserapan dan serapan dapat diikuti semua kata sifat non’jenis kelamin’ (bukan –u, –a, –ór, atau –ora). Misalnya orgaun importante = organ penting; ema pesimista = orang yang pesimistis; moris sosiál = kehidupan sosial; komunikasaun orál = komunikasi lisan; parte vitál = bagian vital; hahalok simples = sikap yang sederhana; hahán prinsipál = makanan pokok; lian nasionál = bahasa nasional.
Sejumlah kata sifat serapan yang berjenis kelamin dapat mengikuti kata benda nonserapan. Misalnya mane garridu = laki-laki genit; feto garrida = perempuan genit; mane bonitu = laki-laki tampan; feto bonita = perempuan cantik.
Sejumlah kata sifat yang dengan akhiran –ór (yang dibentuk dari kata kerja serapan atau nonserapan dan akiran –ór) dapat mengikuti semua subjek, baik maskulin maupun feminin. Misalnya feto-raan gastadór = gadis pemboros; feto koaliadór = perempuan yang ceriwis; mane sisidór = pria yang banyak menuntut; katuas serbisudór = lelaki tua yang suka bekerja keras; ferik rezadór sira = para perempuan tua yang rajin berdoa.
Status
Sesuai dengan pasal 13 ayat 1 dan 2 Konstitusi RDTL tentang bahasa resmi dan bahasa nasional, yang berbunyi: 1. Repúblika Demokrátika Timór-Leste nia lian ofisiál maka Tetun no Portugés (Bahasa-bahasa resmi Republik Demokratik Timor-Leste adalah bahasa Tetun dan Portugis); 2. Estadu valoriza no dezenvolve Tetun no lian nasionál sira seluk (Negara menghargai dan mengembangkan bahasa Tetun dan bahasa-bahasa nasional lainnya), bahasa Tetun berstatus sebagai bahasa ko-resmi (dengan bahasa Portugis) dan bahasa nasional (bersama-sama dengan bahasa-bahasa nasional lainnya).
Penggunaan
Menurut sumber-sumber elektronik (siber), dalam masa perkembangannya, ketika bahasa Tetun belum mampu memenuhi fungsinya pada bidang-bidang kehidupan tertentu, ia ditopang oleh bahasa Portugis sebagai ko-bahasa resmi. Namun, upaya-upaya demi pemaksimalan fungsinya terus-menerus dilakukan. Kiranya kita dapat memaklumi panjangnya waktu yang dibutuhkan sebuah bahasa untuk dapat secara maksimal memenuhi kebutuhan para penuturnya. Bahasa lahir dari masyarakat penuturnya dan akan didewasakan oleh masyarakat itu pula. Kini, laksana sesosok bayi bahasa tulis, bahasa Tetun membutuhkan bimbingan dan tuntutan dalam perjalanan panjangnya. Diperlukan pula kesabaran dan rasa bangga yang tak pudar untuk mengantarnya ke masa depan.
Dewasa ini bahasa Tetun seakan-akan bukan bahasa asing di Indonesia karena terdapat cukup banyak warga negara kita – khususnya yang berasal dari Timor-Leste – yang menggunakannya sebagai bahasa ibu, atau bahasa kedua. Di Timor bagian barat, misalnya, kehadiran bahasa ini mulai terasa sejak kedatangan saudara-saudari dari ex Provinsi Timor Timur. Jadi, disadari atau tidak, pada saat ini bahasa Tetun juga sedang berkembang di Indonesia, di antara bahasa-bahasa lain yang tersebar di seluruh Nusantara.
Penulis: Peminat bahasa dan sastra, tinggal di Yogyakarta
Senin, 31 Agustus 2009
PASAR RAMADHAN MALAYSIA

Siapa pun yang sedang membaca tulisan ini pastilah orang-orang yang telah mendapatkan anugerah usia kehidupan dari Allah Swt. sehingga masih mempunyai kesempatan untuk bertemu kembali dengan Ramadhan. Di seluruh Negara yang berpenduduk muslim, hiruk-pikuk dan keramaian dalam menyambut Bulan Suci ini sangat luar biasa meriahnya. Mulai dari wilayah perkotaan hingga pelosok desa, Ramadhan selalu menampilkan nuansa yang berbeda.
Bulan Ramadhan yang senantiasa ditunggu-tunggu umat Islam seluruh dunia sebagai bulan penuh keberkahan telah tiba. Puasa ramadhan adalah kewajiban bagi ummat Islam untuk menjalaninya selama bulan suci ramadhan. Saat bulan suci ramadhan sangat di Malaysia, orang berpuasa sangatlah dihormati oleh orang lain, baik muslim ataupun non muslim. Pengalaman saya selama melaksanakan ibadah puasa ramadhan di Malaysia, sangatlah berkesan dan penuh dengan banyak nilai relegi. Selama melaksanakan puasa di Malaysia, tidak ada satupun orang yang saya lihat merokok disiang hari, jarang sekali saya melihat warung makan yang buka saat waktu umat muslim berpuasa kalaupun ada yang buka pelangan harus mengunakan tanda-tanda tertentu yang mengisyaratkan kalau yang bersangkutan adalah non muslim. saat bulan Puasa. Di Malaysia, orang yang tak berpuasa tak mudah makan seenaknya di luar. Pasalnya, ada petugas yang khusus memantau umat Islam yang tak berpuasa. Para petugas ini tak segan-segan menanyakan identitas untuk mengetahui agama yang dianut. Jika ketahuan, akan dijatuhi sanksi.
Ibadah Puasa yang dilaksanakan pun selalu membawa kenangan, suka-duka, serta romantika tersendiri terlebih bagi saya dan sejumlah mahasiswa yang bermukim di negeri jiran ini. Bagi sebagian mahasiswa Indonesia di Malaysia yang untuk pertama kalinya menyambut 1 Ramadhan di Negara ini akan menciptakan romantika tersendiri. Berpisah jauh dari keluarga membuat hidup bak sebatang kara. Apalagi mereka tinggal di lingkungan yang mempunyai latar belakang dan adat istiadat yang jauh berbeda. Bagi saya ketika awal bualn puasa perasaaan kesendirian bercampur kerinduan yang mendalam, terbayang oleh saya, beragam keindahan berpuasa di tanah air bersama keluarga. Saat-saat membantu ibunda membuat makanan untuk keperluan berbuka puasa. Saat-saat membantu ibunda menanak nasi, membuat kolak, sampai menyiapkan makan. Bayangan tinggal bayangan, keinginan pun tinggal keinginan. Inilah memori dan persaan sewaktu berpuasa di Malaysia
Di negara jiran, Malaysia, Ramadhan selalu disambut antusias. Namun, tidak ada sesuatu yang berlebihan. Biasa saja. Fenomena yang menonjol justru terletak pada semangat manusianya yang berlomba-lomba dalam kebaikan. Khususnya dalam memberi makan, sedekah, dan menyediakan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa. Selama dua tahun di Malaysia, bagi saya Ramadhan benar-benar bulan penuh berkah. Di berbagai lokasi, banyak tenda tempat untuk berbuka puasa. Jangan tanya bagaimana di masjid-masjid. Itu sudah menjadi kebiasaan umum.

Ketika saya menyiapkan makanan untuk berbuka bisa saya pergi ke pasar Ramadhan yang jaraknya tak jauh dari rumah tempat tingal saya, ketika berbicara tentang Pasar Ramadhan, setiap orang ada pendapat atau pandangan masing - masing. Biasanya kalau pergi ke Pasar Ramadhan, terdapat macam - macam makanan dan minuman ada. Ramadhan di Malaysia. Apa kelainan yang ada bila kita mengunjungi negara Malaysia di bulan ramadhan berbanding kunjungan di bulan-bulan lainnya? Jawabannya adalah Pasar Ramadhan. Pasar Ramadhan adalah pasar yang menjual makanan, atau kue-kue dan minuman khas untuk persiapan berbuka puasa. Biasanya pasar ini bertapak di lokasi-lokasi tertentu. Selalunya pasar ini dibuka selama sebulan penuh. kemeriahannya biasanya berlangsung pada awal bulan saat orang datang beramai-ramai dengan semangat membeli yang masih tinggi.
Pembeli akan berkurangan pada minggu terakhir karena sebahagian besar dari mereka mulai 'balik kampung' atau mudik untuk merayakan lebaran. Zaman sekarang dimana ramai pasangan suami isteri bekerja, adanya pasar ramadhan memudahkan para isteri menyiapkan hidangan berbuka puasa tanpa perlu bersusah-susah memikirkan menu harian. Semua tinggal lihat, pilih dan tunjuk. Biasanya karena 'lapar mata' dan main tunjuk inilah, terkadang pembaziran kerap berlaku. Pada saat jualan sudah penuh tersedia di atas meja dan waktu berbuka puasa tiba, barulah kita sadar bahwa makanan yang dibeli sesungguhnya melebihi kapasitas perut seisi keluarga. Seperti kita juga, orang melayu ini suka makan.... Berbagai pilihan makanan tradisional ditawarkan untuk pembuka selera ketika berbuka puasa.
Seawal pukul 4 sore (maghrib pukul 7:20 malam) para penjual telah menyiapkan tenda kecil untuk menjajakan makanan berbagai aneka kue mereka. Pilihan yang ada dimasak dengan berbagai cara mulai dari panggang-memanggang, goreng-menggoreng, kukus-mengukus ataupun rebus-merebus. Kesemua ini tentunya tidak akan membosankan selera lidah kita. Berbagai jenis bubur, nasi, bakmi, kue dan aneka minuman tersedia untuk mengubah selera pelanggan setiap hari.
Sebaik-baiknya adalah makanan yang tidak dimasak diatas api, seperti kurma. Ada berbagai pilihan kurma yang siap didatangkan dari luar negara seperti Iran, Turki, Maroko, Arab Saudi dan negara di timur tengah lainnya, jenis tekstur dan rasa. Untuk tidak mengejutkan sistem penghadaman (pencernaan) perut kita, sebaiknya berbuka dengan makanan yang bertekstur lembut. bubu adalah antara pilihan yang bisa kita jumpai, seperti bubur kacang hijau, pulut (ketan) hitam, bubur caca, pengat (kolak) pisang, bubur sagu, pengat labu dan banyak lagi. Masing-masing siap dikemas dalam tupperware dan dijual dengan harga RM 1.00 (sekitar Rp 2500,-)
Kata kawan tiada ramadhan tanpa Bubur lambuk. Bubur ini adalah bubur nasi yang dimasak dengan santan. Dimasukkan daging yang telah dipotong halus-halus (tipis-tipis kali ya bahasa Indonesiannya hehehe...) dan campuran udang kering (ebi). Bubur lambuk ini biasanya menjadi pilihan untuk dihidangkan pada acara berbuka puasa di surau, mesjid atau dibahagikan secara percuma (gratis) setelah dimasak beramai-ramai oleh penduduk setempat di kawasan yang setikat RT/RW di Indonesia

Minuman berbagai rasa dan warna, ataupun jus buah (fruit juice) tidak ketinggalan menyerikan pasar Ramadhan 'bulan terbaik dari 1000 bulan' ini. Mulai dari air tebu, air barli, air soya, air jagung, air kelapa muda dan banyak lagi menjadi pilihan untuk melepas dahaga saat berbuka. Popia Banjar adalah satu dari puluhan panganan yang menjadi tumpuan ramai untuk dinikmati. Sebetulnya ini hanyalah lumpia goreng yang siap disiram dengan 'cili sos'. Rasa saosnya manis-manis pedas. Karena 'ramping'nya lumpia goreng ini, harganyapun hanya 'Tiga seringgit'. Maksudnya tiga buah lumpia harganya RM1.00. Bukan 'Seringgit tiga' ! Sebab, ini artinya RM1.30 atau seringgit tigapuluh sen.
Penganan lain seperti Ketayap (dadar enten), Kue Lapis (warna merah-putih), Serimuka (warna hijau-putih), Kue Talam (warna coklat-putih), kue Buah Melaka (klepon), Tahu Sumbat (tahu isi -tauge, timun dan wortel dihiris korek api dimakan dengan cili sos-), kue Tepung Pelita (warna putih-hijau dalam takir), ataupun agar-agar dengan berbagai warna dan perisa turut memeriahkan pesta makanan di pasar ramadhan.
Perut orang melayu rasanya tidak afdol kalau belum terisi nasi. Dari Nasi Lemak (warna putih santan), Nasi Ayam (warna kekuningan), Nasi Tomato (warna kemerahan), Nasi Kerabu (warna kebiruan), Nasi Dagang (warna berbintik kecoklatan) ataupun Nasi Pecel Indonesia tidak ketinggalan ikut mengambil bahagian Semua tersedia, pilihan terpulang kepada pelanggan (pembeli). Nasi Dagang dan Nasi Kerabu adalah makanan tradisional dari Kelantan. Yang menarik dari Nasi Kerabu adalah ketika ditanak nasi dicampur dengan pewarna sehingga menghasilkan warna kebiruan. Di negeri asalnya, biasanya warna kebiruan ini dihasilkan dari perahan air yang dicampur bunga berwarna ungu. Lazimnya dimakan dengan beberapa jenis lauk seperti pada Nasi Campur.
Bila kita menyebut ketupat di Malaysia maka yang terhidang adalah ketupat dari beras ketan yang dibungkus dengan daun nipah dan berbentuk segitiga. Biasanya dihidangkan pada waktu lebaran dimakan dengan kari daging atau rendang. Selain sate ayam ada juga pilihan sate dagin Maksudnya daging lembu. Untuk pengetahuan anda, orang melayu tidak menyebut daging sapi.
Untuk anak-anak, roti John adalah pilihan mereka. Ini adalah roti yang panjangnya 40cm. Isinya lebih kurang sama dengan isi martabak telur di Indonesia. Dijual dengan harga RM3.00 roti ini benar-benar mengenyangkan. Selain Roti John ada juga Roti Jala, Roti Boom, Roti Kebab dan Roti Canai. Roti Canai dan Nasi Lemak (nasi uduk) boleh dikatakan adalah suatu 'keharusan' bagi orang Malaysia untuk menu sarapan pagi mereka bila ramadhan berakhir. Roti Canai sebenarnya sama dengan kulit martabak telur di Indonesia. Biasanya dihidang dengan sambal tumis ikan bilis, dan kuah kari ayam. murtabak atau martabak dalam bahasa melayu adalah yang paling laris dijual. Ada dua pilihan untuk intinya yaitu ayam atau daging. Harga RM 2.00 untuk setiap keping bisa dibeli dengan ukuran setengah dari martabak kita. karena asal makanan ini dari India maka rasanyapun lebih berrempah.
Tradisi pasar Ramadhan di Malaysia ternyata menarik sebagian warga yang tinggal di sekiratan lokasi, merak mendatangi pasar Ramadhan itu untuk berbelanja makanan berbuka ada juga yang datang hanya untuk melihat-lihat atua dan yang datang untuk mencari suasana baru selama bulan Ramadhan, pengunjung pasar ramadhan ini juga berasal dari orang-orang dari luar kompleks hentian kajang. Pasar Ramadhan ini di buka sejak pukul 15:00 sampai masuk pada berbuka. Pasar Ramadhan ala Malaysia ini tidak ubahnya seperti sebuah pasar tetapi bukan dalam bentuk bangunan yang permanen Pasar yang bersifat sementara atau sengaja dibentuk terutama di kawasan atau daerah yang berdekatan dengan kompleks perumahan.
Bagi orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Malaysia baik sebagai
mahasiswa, pedagang maupun sebagai tenaga kerja, pasar Ramhdan bukanlah
satu hal yang asing lagi karena di Indonesia juga banyak pasar Ramadhan yang ditumbuhkan selama bulan Ramadhan. Di sebalik semaraknya kegiatan pasar Ramadhan di Malaysia, mungkin pengunjung banyak yang tidak tahu, bahwa sebahagian besar dari mereka yang berjualan itu adalah berasal dari Minangkabau atau disebut orang
Padang. Walaupun kadang-kadang mereka berbahasa Melayu tetapi logat dan
perilaku mereka tidak dapat menutupi "gaya minangnya.
Yang jelas, pasar Ramadhan mendatangkan rezeki bagi banyak warga Malaysia, karena pasar Ramadhan membuka kesempatan kerja bagi mereka. Pendapatannya pedagang di pasar Ramadhan bisa mendapat 5.000 ringgit pada bulan Ramadhan. Di pasar Ramadhan, bisnis juice buah segar menjadi salah satu bisnis yang banyak dijumpai di pasar-pasar Ramadhan di Malaysia. Juice buah mulai dari yang kalengan sampai juice buah segar, termasuk cendol dan air kelapa menjadi penawar dahaga yang paling diminati Muslim Malaysia setelah seharian berpuasa. Yang paling banyak diminati, kata seorang penjual, adalah sari air kelapa segar
Jadi..... Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Hindarilah mendapat masalah dengan makan dan minum di siang hari di tempat umum bila berkunjung ke Malaysia di bulan puasa.
at
Senin, Agustus 31, 2009
Posted by
JAMIL PATTY
0
comments
Labels:
jami patty Pasar Ramadhan Malaysia
Rabu, 26 Agustus 2009
Orang Bugis dan Bahasa Melayu
ORANG Bugis mulai melakukan migrasi besar-besaran gelombang pertama pada tahun 1667. Di perantauan mereka berbicara dengan bahasa Melayu. 261 tahun setelah peristiwa besar itu, bahasa Melayu diadaptasi menjadi Bahasa Indonesia dan menjadi unsur terpenting nasionalisme Indonesia.
Tulisan ini memuat intisari penelitian dua pakar linguistik, James T Collins dari Center for Southeast Asian Studies, Northern Illinois University,Amerika, dan Sukardi Gau dari Balai Bahasa Jayapura dan Institut Alam dan Tamadun (ATMA), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Keduanya diundang untuk memaparkan hasil-hasil penelitian tentang persebaran bahasa Melayu di Indonesia bagian timur dalam Seminar Internasional Kemelayuan di Indonesia Timur, di Gedung IPTEKS Unhas, Tamalanrea, Makassar, Minggu (12/10).
Kajian mengenai keberadaan bahasa Melayu di Indonesia timur terabaikan. Banyak pengkaji sejarah bahasa melihat produk kebudayaan Melayu itu tidak memiliki jejak sedikit pun di Indonesia timur, termasuk Sulawesi. Melayu dianggap hanya berakar di Sumatera dan semenajung Malaka. "Nnusantara timur (demikian sebutan Collins untuk Indonesia timur), sudah lama terkait dengan sistem perdagangan global. Pedagang dari wilayah ini memasok bahan rempah-rempah di pasaran dunia terutama di Cina, India dan eropa," kata Collins.
Dalam proses perdagangan inilah bahasa Melayu digunakan untuk berkomunikasi. Bahasa Melayu di Indonesia timur ini kemungkianan berasal dari wilayah Kalimantan yang digunakan sebagai wahana dalam konteks keberagaman dan perdagangan internasional. Menurut Collins, titik permulaan penggunaan bahasa Melayu di Indonesia timur ini belum dapat dipastikan waktunya. Tetapi sejak kapal asing masuk di nusantara sekitar abad ke-16, masyarakat nusantara timur sudah bertutur dalam bahasa Melayu.
Senada dengan Collins, Sukardi juga tidak dapat menandai titik awal penggunaan bahasa Melayu di Indonesia timur. Yang ia kaji adalah adaperan besar orang Bugis (juga Makassar) dalam penyebarannya. Titik awalnya adalah migrasi pascapergolakan politik tahun 1667. "Pergolakan itu adalah peperangan antara Kerjaan Gowa yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin dengan Belanda. Peperangan ini berakhir dengan kekalahan Gowa yang ditandai dengan Perjanjian Bungaya, 18 November 1667," katanya.
Perjanjian itu ditulis dalam dua bahasa. Bahasa Belanda untuk para pejabat dan opsir Belanda dan bahasa Melayu untuk Sultan Hasanuddin dan pasukannya. Ini membuktikan bahasa Melayu telah menjadi bahasa di Sulawesi bagian Selatan saat itu.
Orang Bugis yang memilih pergi merantau saat itu memilih bekerja sebagai pedagang serta menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa sehari-hari. kedua penyebaran bahasa Melayu ke arah timur Indonesia terjadi saat migrasi secara besar-besaran ke Papua. Bermula sejak penyerahan Irian Jaya (nama Papua saat itu) dari Kerajaan Belanda kepada Pemerintah RI. Pemerintah saat itu menggalakkan program transmigrasi.
Migrasi orang Bugis membawa identitas hidup pallaonruma (petani), pakkaja (nelayan), dan passompe (pelaut pedagang). Passompe ini kebayakan menjadi saudagar yang berusaha di bidang ekspor dan impor. Mereka berdagang antarpulau ke pulau satu musim. Apabila datang musim timo (kemarau), mereka berlayar ke arah barat dan jika sudah datang musim bare' (hujan) mereka pulang ke kampungnya.
Mereka berlayar dari perairan Sulawesi sampai Laut Arafura. Motivasi masyarakat Bugis ke Papua adalah mencari sumber penghidupan. Alasan ini menjadi lebih kuat setelah Indonesia mengalami kemerosotan ekonomi tahun 1963 atau saat pemerintahan Presiden Soekarno.
Mereka memanfaatkan nilai tukar uang setelah Indonesia mengalami inflasi pada tahun 1962 dan 1968. Nilai mata uang rupiah di Papua saat itu relatif tinggi dibandingkan dengan provinsi lain di luar Papua.Orang Bugis di Papua ini mengalami perkembangan pesat, mereka kemudian menetap dan membentuk komunitas. Dalam kehidupan sehari-hari mereka menggunakan dua bahasa (bilingual), yaitu bahasa Bugis untuk sesama orang Bugis, dan bahasa Melayu kepada masyarakat pribumi.
Meskipun banyak pedagang dari pulau lain ke Papua, namun komunitas Bugis lah yang banyak menetap di Papua. Akibatnya bahasa Melayu melekat dan berasimilasi dengan bahasa Papua, yang dikenal dengan bahasa Melayu-Papua.
Kini jejak-jejak bahasa Melayu dapat dilihat di sepanjang rute migrasi, di Pulau Sulawesi dan Maluku. Misalnya saja adanya dialek Melayu yang dituturkan oleh masyarakat Maluku tengah melaui teks buku keagamaan baik itu agama Islam maupun Kristen. Selain itu terdapat juga manuskrip yang ditulis pada abad ke-17 dalam bahasa Melayu, di antaranya, Hikayat Tanah Hitu, Hikayat Nabi Musa, dan Hikayat Nabi Yusuf. Karya-karya ini tersohor di seantero nusantara pada waktu itu.
Di masa ini lahir sastrawan-sastrawan Melayu dari Makassar dan Ambon, seperti Encik Amin pencipta naskah Syair Perang Mangkasara dan Imam Rijali. Temuan ini menunjukkan, masyarakat Makassar dan Ambon sudah menggunakan bahasa Melayu sejak abad ke-17.
Makassar Punya Cerita
Tulisan ini memuat intisari penelitian dua pakar linguistik, James T Collins dari Center for Southeast Asian Studies, Northern Illinois University,Amerika, dan Sukardi Gau dari Balai Bahasa Jayapura dan Institut Alam dan Tamadun (ATMA), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Keduanya diundang untuk memaparkan hasil-hasil penelitian tentang persebaran bahasa Melayu di Indonesia bagian timur dalam Seminar Internasional Kemelayuan di Indonesia Timur, di Gedung IPTEKS Unhas, Tamalanrea, Makassar, Minggu (12/10).
Kajian mengenai keberadaan bahasa Melayu di Indonesia timur terabaikan. Banyak pengkaji sejarah bahasa melihat produk kebudayaan Melayu itu tidak memiliki jejak sedikit pun di Indonesia timur, termasuk Sulawesi. Melayu dianggap hanya berakar di Sumatera dan semenajung Malaka. "Nnusantara timur (demikian sebutan Collins untuk Indonesia timur), sudah lama terkait dengan sistem perdagangan global. Pedagang dari wilayah ini memasok bahan rempah-rempah di pasaran dunia terutama di Cina, India dan eropa," kata Collins.
Dalam proses perdagangan inilah bahasa Melayu digunakan untuk berkomunikasi. Bahasa Melayu di Indonesia timur ini kemungkianan berasal dari wilayah Kalimantan yang digunakan sebagai wahana dalam konteks keberagaman dan perdagangan internasional. Menurut Collins, titik permulaan penggunaan bahasa Melayu di Indonesia timur ini belum dapat dipastikan waktunya. Tetapi sejak kapal asing masuk di nusantara sekitar abad ke-16, masyarakat nusantara timur sudah bertutur dalam bahasa Melayu.
Senada dengan Collins, Sukardi juga tidak dapat menandai titik awal penggunaan bahasa Melayu di Indonesia timur. Yang ia kaji adalah adaperan besar orang Bugis (juga Makassar) dalam penyebarannya. Titik awalnya adalah migrasi pascapergolakan politik tahun 1667. "Pergolakan itu adalah peperangan antara Kerjaan Gowa yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin dengan Belanda. Peperangan ini berakhir dengan kekalahan Gowa yang ditandai dengan Perjanjian Bungaya, 18 November 1667," katanya.
Perjanjian itu ditulis dalam dua bahasa. Bahasa Belanda untuk para pejabat dan opsir Belanda dan bahasa Melayu untuk Sultan Hasanuddin dan pasukannya. Ini membuktikan bahasa Melayu telah menjadi bahasa di Sulawesi bagian Selatan saat itu.
Orang Bugis yang memilih pergi merantau saat itu memilih bekerja sebagai pedagang serta menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa sehari-hari. kedua penyebaran bahasa Melayu ke arah timur Indonesia terjadi saat migrasi secara besar-besaran ke Papua. Bermula sejak penyerahan Irian Jaya (nama Papua saat itu) dari Kerajaan Belanda kepada Pemerintah RI. Pemerintah saat itu menggalakkan program transmigrasi.
Migrasi orang Bugis membawa identitas hidup pallaonruma (petani), pakkaja (nelayan), dan passompe (pelaut pedagang). Passompe ini kebayakan menjadi saudagar yang berusaha di bidang ekspor dan impor. Mereka berdagang antarpulau ke pulau satu musim. Apabila datang musim timo (kemarau), mereka berlayar ke arah barat dan jika sudah datang musim bare' (hujan) mereka pulang ke kampungnya.
Mereka berlayar dari perairan Sulawesi sampai Laut Arafura. Motivasi masyarakat Bugis ke Papua adalah mencari sumber penghidupan. Alasan ini menjadi lebih kuat setelah Indonesia mengalami kemerosotan ekonomi tahun 1963 atau saat pemerintahan Presiden Soekarno.
Mereka memanfaatkan nilai tukar uang setelah Indonesia mengalami inflasi pada tahun 1962 dan 1968. Nilai mata uang rupiah di Papua saat itu relatif tinggi dibandingkan dengan provinsi lain di luar Papua.Orang Bugis di Papua ini mengalami perkembangan pesat, mereka kemudian menetap dan membentuk komunitas. Dalam kehidupan sehari-hari mereka menggunakan dua bahasa (bilingual), yaitu bahasa Bugis untuk sesama orang Bugis, dan bahasa Melayu kepada masyarakat pribumi.
Meskipun banyak pedagang dari pulau lain ke Papua, namun komunitas Bugis lah yang banyak menetap di Papua. Akibatnya bahasa Melayu melekat dan berasimilasi dengan bahasa Papua, yang dikenal dengan bahasa Melayu-Papua.
Kini jejak-jejak bahasa Melayu dapat dilihat di sepanjang rute migrasi, di Pulau Sulawesi dan Maluku. Misalnya saja adanya dialek Melayu yang dituturkan oleh masyarakat Maluku tengah melaui teks buku keagamaan baik itu agama Islam maupun Kristen. Selain itu terdapat juga manuskrip yang ditulis pada abad ke-17 dalam bahasa Melayu, di antaranya, Hikayat Tanah Hitu, Hikayat Nabi Musa, dan Hikayat Nabi Yusuf. Karya-karya ini tersohor di seantero nusantara pada waktu itu.
Di masa ini lahir sastrawan-sastrawan Melayu dari Makassar dan Ambon, seperti Encik Amin pencipta naskah Syair Perang Mangkasara dan Imam Rijali. Temuan ini menunjukkan, masyarakat Makassar dan Ambon sudah menggunakan bahasa Melayu sejak abad ke-17.
Makassar Punya Cerita
Lingkungan Alam dan Pantang Larangan

membosankanlah hal itu bagi anak-anak. Di kota-kota, anak-anak sudah tidak mempunyai peluang lagi untuk mengumpulkan pengalaman-pengalaman, yang bagi anak-anak yang berada di luar kota merupakan hal biasa yang sehari-hari dijumpai. Berjalan-jalan menerobos rumput setinggi lutut, memanjat pohon dan memetik buah, berjungkir-jungkir menuruni bukit atau menyelusuri sebuah sungai kecil.
Anak-anak yang tinggal di desa, dalam hal ini boleh dikatakan lebih mujur. Alam telah membantu mereka. Padang yang luas, sungai-sungai dan bukit-bukit serta semak belukar di sekeliling mereka merupakan arena bermain yang tidak terbatas. Dan kalau kita perhatikan apa yang bisa mereka lakukan dengan semua itu, alangkah beraneka- ragamnya! Mereka ciptakan sendiri caranya, situasi dan alat-alatnya dari yang terdapat di sana. Tetapi bagaimana dengan anak-anak yang tinggal di kota? Keadaannya memang jauh berbeda. Tanah yang hampir setiap jengkal dipergunakan sebagai tempat tinggal, sudah barang tentu memperkecil kesempatan bagi mereka untuk bermain sebebas-bebasnya. Belum lagi situasi lalu-lintas yang ramai yang menjadi penghalang bagi mereka untuk lebih merasa aman bermain.
Manusia dan lingkungan boleh dikatakan memiliki sifat-sifat yang kurang lebih sama, yakni hidup, berkembang dan berfungsi. Hubungan dan pengaruh yang saling berkaitan antara kedua 'jasad alam' itu menimbulkan dampak-dampak, baik yang positif maupun yang negatif. Tetapi yang jelas, dampak positif yang sangat diharapkan dapat membantu kelangsungan hidup secara nyaman, aman dan tentram menuntut adanya tanggung jawab akan pemeliharaan demi kelestarian alam secara keseluruhan.
Sambil berjalan-jalan kita dapat menerangkan segala sesuatu kepada anak terutama hubungannya dengan kehidupan binatang dan tumbuh-tumbuhan. Anak harus diberitahu, bahwa sebatang pohon itu bisa berasal dari sebuah biji yang cukup matang dan tua. Setelah anak mengerti tentang kebutuhan hidup setiap makhluk dan hubungannya satu sama lain, kita dapat meningkatkan pengetahuannya tentang di mana binatang atau tumbuhan itu bisa hidup.
Coba, sesekali kita belajar kepada orang tua tempo dulu. Logika yang dipakai
oleh orang tua tempo dulu dalam mengelola lingkungan memang sederhana yaitu
"pantrangan" (larangan). Kata orang tua dulu, ketika masyarakat mau membuka
hutan sebagai lahan pertanian, mereka melakukannya dengan penuh hati-hati.Misal penebangan pohon tidak dilakukan dengan semena-mena, mereka beranggapan jika pohon ditebang habis tanpa menyisakannya, maka arwah-arwah nenek moyang mereka yang mendiami pohon akan marah (logika yang tidak masuk akal. Lalu masyarakat dilarang untuk mengambil batu-batu dibantaran sungai. Lagi-lagi ini pantrangan yang harus ditaati oleh seluruh masyarakat. Orang tua tempo dulu beranggapan jika mengambil batu di bantaran sungai, maka arwah nenek moyang mereka akan marah, sebab batu-batu yang ada di bantaran sungai tempat duduk arwah dalam menjaga keselamatan masyarakat. Begitupun pantrangan untuk menebang pohon di hulu sungai, sebab menurut orang tua tempo dulu bahwa hulu sungai merupakan tempat para roh leluhur berkumpul. Dan jika ada yang menebang pohon dihulu sungai, maka arwah nenek moyang mereka akan marah dengan mengirimkan air bah yang besar.
Logika yang sederhana yang dikaitkan dengan kepercayaan yang dianut, kalau kita
telusuri makna pantrangan bagi orang tua tempo dulu itu, ternyata pantrangan itu merupakan sebuah philosopy yang harus kita ambil manfaatnya. Philosopy orang tua tempo dulu secara tidak langsung mengajarkan kepada kita bagaimana mengelola alam itu dan ini merupakan penjewantahan dari pemeliharaan ekosistem lingkungan hidup Pantrangan menebang hutan di hulu sungai dan pembukaan hutan oleh orang tua tempo dulu sebagai lahan pertanian tidak ditebang habis, ini mengisyaratkan agar tidak terjadi penggerusan air hujan (erosi. Begitupun larangan mengambil batu di bantaran sungai inipun mengisyaratkan agar bantaran sungaipun jangan sampai tergerus habis ketika datang musim banjir.
Ada lagi kasus pantrangan dari orang tua tempo dulu yaitu makan tunggir ayam. Kata orang tua tempo dulu anak kecil dilarang makan tunggir sebab "famali". Tahukah anda tunggir ayam ? Tunggir ayam yaitu pantat ayam (bukan lobang anus) yaitu ekor ayam. Kalau kita coba untuk memakannya ternyata memang enak, rasanya gurih penuh dengan lemak. Kenapa orang tua tempo dulu melarang anak-anak untuk makan tunggir ayam? Jelas orang tua tempo dulu ini termasuk orang rakus dan pelit.(masa anak-anaknya dilarang makan yang enak).
Selain itu ada pantrangan dari orang tua tempo dulu yaitu dilarang duduk diatas
meja, lagi-lagi famali. Ternyata kalau kita simak, ternyata bukan hanya sekedar
famali, sebab meja bukan tempat alas duduk, dan tidak pantas kalau kita duduk
diatas meja. Atau mungkin meja tersebut reot, jika diduduki takutnya rubuh dan
mendatangkan celaka.
at
Rabu, Agustus 26, 2009
Posted by
JAMIL PATTY
0
comments
Labels:
Jamil patty,
Lingkungan Alam dan Pantang Larangan
Selasa, 25 Agustus 2009
ASIDA

ketika puasa hari ketiga saya diundang ole kawan untuk berbuka puasa bersama pada jam 06:30 saya di jemput oleh kawan dengan mengunakan mobil proton (mobil buatan Malaysia) kami terus menuju bandar baru Bangi dan kali ini kami tak pergi ke kedai makan (rumah Makan) seperti dua hari yang lalu. Kali ini kami menuju sebuah bagunan flat, disana telah menati kehadirian kami kawan-kawan yang lain, kami pun bercanda gurau sambil menungu datangnya saat berbuka.
Di antara kawan-kawan yang berasal dari Indonesia ada juga seorang kawan yang berasal dari Tunisia. Disinilah hal yang menarik membuat saya teringat akan makanan andalan saya sewaktu berbuka Asida namanya. Saat datanya buka kami disajikan dengan asida khas Tunisia, sayapun bertanya-tanya apa nama makanan ini kata kawanku asida namanya. Kawan yang berasal dari Tunisia itu pun bercerita tentang Asida sebagain makanan bagi muslim Tunisia, dalam menyambut kelahiran Nabi Muhammad saw tak hanya diperingati dengan upacara keagamaan biasa serta pembacaan sirah nabawiyah, syair al Barzanzi atau Dibai seperti dalam syair di atas. Tetapi juga dimeriahkan dengan adanya assida, bubur manis dan lezat khas Tunis yang hanya diproduksi pada bulan Mulud.
Sejak penghujung bulan Safar, tanda-tanda perayaan maulid sudah nampak. Assida pun mulai mengisi pojok-pojok toko dan super market. Asida adalah bubur berwarna hitam dilapisir krem dan ditaburi berbagai jenis kacang-kacangan, seperti noisette, amande dan lain-lain. Bahannya utamanya adalah zagugu – sejenis tepung gandum khas Arab - gula pasir dan air. Untuk lapisan kremnya ada susu, kuning telur, vanili dan maizena.
Di kafe-kafe gaul kota Tunis, assida juga tersedia. Jadi teman minum kopi sambil duduk santai di tengah eksotisme kota. Di kafe-kafe, satu mangkok kecil assida biasa dijual seharga 1,5 Dinar atau sekitar 12 ribu rupiah. Kadang ada yang lebih mahal. Bagi yang hendak bikin sendiri di rumah, biji zagugu dan kacang-kacangan itu juga tersedia di toko-toko. Selain mengkonsumsi assida, umat Islam Tunisia juga biasa mengkhitan puteranya pada bulan Mulud. Barangkali untuk berharap berkah yang lebih. Acara khitanan massal pun digelar di banyak tempat.
Asida ('asīda) (bahasa Arab: عصيدة) adalah hidangan Arab terdiri dari tepung gandum yang dimasak gumpalan adonan. Hal ini mirip dengan bubur. Asida merupakan makan di seluruh dunia Arab, dari negara-negara Arab Teluk Persia ke Afrika Utara. Asida dimakan dengan mengunakan tangan di timur tengah, tanpa menggunakan perkakas. Hal ini sering disajikan pada hari libur, seperti Maulid, dan perayaan. Hidangan ini merupakan hidangan sederhana namun kompleks. Di Timur Tengah asida adalah makanan tradisional sebagai sarapan di pagi hari ada juga asida sebagai makanan ringan yang mengiurkan dim lam hari.
Saat posting ini dimuat kenanga tentang ibuku yang membuat asida untuk berbuka selalu beyangang Kebiasaan ibuku adalah minum kopi sore dan biasanya kopi sore hari yang diminum itu harus ada ‘temannya’ apakah pisang goreng, panekoek atau apa saja yang penting ada temannya. Nah di saat bulan puasa seperti saat ini, teman minum kopi jadi sedikit berubah dikala berbuka puasa, hehehheheh jadi teringat kembali masa-masa yang bahagia di desa kelahirannya, sebuah desa kecil di Kebupaten Beram Bagian Barat. selama bulan puasa, pada saat berbuka selalu asida menjadi menu utama kue asida ini sangat terkenal di Maluku walaupun asida merupakan makanan khas orang timur tengah tetapi juga menjadi paforit warga Maluku.

Di kota Ambon apabila bulan ramadha tiba begitu banyak tenda-tenda yang di pasang disekitaran desa Batu Merah dan depan Mesjid Al Fatah Aneka kue, asinan, hingga lontong sayur terhampar. Tak ketinggalan makanan khas selama puasa: aneka kolak. Beragam makanan nan menggoda itu dijual di pasar ramadhan di sepanjang desa Batu Merah dan depan Mesjid Raya Alfata Ambon. Aneka makanan yang dijual di pasar Ramadan ini cukup beragam. Aneka kolak hingga lauk untuk buka puasa tersedia mulai. Pasar ramadhan ini cukup membantu ibu-ibu yang tak sempat memasak juga para anak kos. Bukan hanya pembeli yang diuntungkan. Pedagang juga bersyukur bisa mendapat penghasilan tambahan untuk ber-Lebaran. Berkah Ramadhan dari pasar ini juga dirasakan juru parkir dan tukang ojek. Sayangnya pasar ini menimbulkan kemacetan. Tak ada satupun polisi yang datang mengatur lalu lintas.
Sementara itu di Ambon, Maluku, terdapat salah satu Kampung Ramadhan atau Kampung Kue yang berada di Lorong Waliulu, Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau. Dijuluki kampung kue karena dikawasan ini seluruh warganya terlibat dalam mengerjakan makanan yang dijual untuk panganan buka puasa saat Ramadhan. Setiap Ramadan, kampung ini ramai dikunjungi orang. Mereka umumnya mencari kue untuk dibeli sebagai menu berbuka puasa. Kue yang dijual mulai dari Asida, makanan favorit warga Kota Ambon, hingga kue tar atau biasa disebut sebagai kue yahudi. Entah kenapa sampai di juluki kue Yahudi. Tapi yang lebih penting, menurut warga, kue Yahudi memiliki khas tersendiri serta cukup enak. Wajar, jika kue Yahudi selalu diserbu warga sebagai makanan utama buka puasa Walau harganya cukup mahal,Rp 2.500 per potong.
Sayangnya, kue ini hanya dijual ketika Ramadhan. Berbagai jenis kue mulai dijual dari pukul 11.00 WIT. Dalam waktu tiga jam, kue-kue ini habis terjual.
Apabila kue yahudi habis masi ada asidah bro……….yang juga penganan khas Ambon. Konon makanan mirip jenang atau dodol, tetapi lebih kenyal ini, dibawa oleh orang Arab yang kini banyak yang menetap di kawasan Batumerah. Asidah pun kemudian identik dengan Batumerah karena rasanya tak kalah enak dibandingkan dengan kue yahudi.
Resep asidah sudah bukan rahasia bagi masyarakat Ambon. Asidah mudah dijumpai di setiap pasar ramadhan seperti di Batumerah dan di depan Masjid Al Fatah.
Asidah dibuat dari tepung terigu dan gula kelapa. Adonan berwarna coklat ini dicetak dalam mangkuk kecil. Karena itu, bentuknya seperti kubah dengan cerukan kecil di tengahnya. Di atasnya ditaburi gula pasir halus, kayu manis, mentega cair, dan biji gardamon yang didatangkan dari tanah Arab. Setiap sendok asidah juga terasa lembut di mulut. Cara memakannya, asidah cukup ditekan dengan lidah ke dinding atas mulut dan selanjutnya akan mengalir dengan sendiri ke perut. Taburan gardamon di asidah menyebarkan aroma yang mirip eucalyptus dengan rasa sedikit pedas dan segar. Biji gardamon seperti itu biasanya dikunyah untuk menyegarkan aroma mulut. Kelembutan asidah pun bagus untuk mengisi perut yang kosong. Di samping rasanya manis, juga baik untuk mengembalikan energi tubuh setelah berpuasa. Setiap bungkus asidah bisa diperoleh dengan dua lembar uang seribu rupiah. Jika disimpan dalam lemari es, asidah terasa lebih nikmat saat disantap. "Asidah bisa juga untuk oleh- oleh lo karena bisa tahan dua hari.
at
Selasa, Agustus 25, 2009
Posted by
JAMIL PATTY
2
comments
Labels:
Asida,
jamil patty..asida ambon
Minggu, 23 Agustus 2009
Tradisi Lisan yang terlupakan
Sejarah tinta seng bisa bicara, tapi kapata bisa carita
hancurkan tirai kusut dan tua sioo nusa ina bukti sejarah
sombar waringin dari nunu saku tifa murkele game dong bale
hutan dan rimba suda babunga tahuri babunyi diujung binaya
siooo basudara yang satu darah ana cucu siwa lima katong buka suara
pombo putih kapata damai. Seisi bahtera bersuka ria sinar
sejarah damaikan Maluku siooo basudara yang satu darah
nusa ina tu rumah tua nunu siwa lima ooo pombo putih kapata damai
seisi bahtera bersuska ria tahuri babunyi di gunung binaya
Sinar sejarah damaikan Maluku.
Sepengal syair lagu SATU DARA yang dilantungkan oleh MAINORO sekumpulan anak Maluku, ketika termenung saya selalu menikmati dan menghayati isi yang terkandung dalam bait demi bait lantuana syair lagu ini. Sekiranya yang saya dapat dari lagu ini adalah Suatu cerita yang diyakini benar adanya oleh suatu kelompok masyarakat tertentu yang berhubungan dengan jati diri dan identitas masyarakat itu yang dapat saja hadir dengan versi-versi yang berbeda dalam kalangan masyrakat Maluku khususnya masyarakat Maluku Tengah.
Ketika duduk di sampaing nenek sambil menikmati cahaya rembulan, merupakan kenangan manis masa kecil dengan dongen dan febal yang diceritakan padaku. Suatu kata berhikmah selalu mengawali cerita" cerita ini bohong cucu" tapi nenek tidak bohong padamu" lantas sang nenek bercerita tentang binatang-binatang yang bisa bercerita, mulai dari burung yang mendendangkan syair yang begitu syadu, sampai pada sang pahlawan yang gagah berani. Semua itu sang nenek menceritakannya sambil mengajak cucucnya memandang rembulan melalu sela dedaunan, seakan sebuah eksplorasi penyadaran image-visi-sikap bahwa kita punya negeri, Istimewahnya, usapan lembut tangan nenek terasa mengalirkan kehangatan tiada henti. Dengan logika pendek, agaknya binatang yang bicara sang pahalawan dengan kepala naga yang berkuasa memeng Cuma sebuah kebohonga.
Sungguh aku tidak pernah memahami tentang arti kebohongan yang tidak bohong, sampai sekian puluh tahun berlalu, ketika sang cucu kini menjadi seorang perantau, baruhlah sadar bahwa yang tidak bohong itu adalah nilai kebenaran dalam bentuk ungkapan filosofi serta ketulusan nurani kasih-sayang. Sebab hanya nenek yang punya ksih-sayanglah yang punya waktu untuk berbagi rasa. Tidak pernah kuduga, jika semua itu akan ikut membentuk kepribadianku sebagai anak di Nusantara, melalui itu pula saya mengenal anak yang lain di persada Nusantara.
Sepengal kenangan di atas memberikan gambaran betapa sastra lisan dapat berfungsi sebagai media pendidika. Kendati dudah melampaui bulan dan tahun, namun syair-syair indah yang diungkapkan sang nenek dengan nilai budayanya yang kain mengakar, begitu kuat terukir dihati, sastra lisan sebenarnya suda terpihakan dari kehidupan leluhur pada masa lampau.
Syair di atas dapat diarti juga sebagai sastra lisan karena ungkapan yang didalamnya terdapat unsur-unsur cerita lisan,seperti yang diungkapkan Sumardjo (1979:30) Karya sastra adalah ungkapan pikiran dan perasaan seseorang pengarang dalam usahanya untuk menghayati kejadian-kejadian yang ada disekitarnya, baik yang dialaminya maupun yang terjadi pada orang lain pada kelompok masyarakatnya. Hasil imajinasi pengarang tersebut dituang ke dalam bentuk karya sastra untuk dihidangkan kepada masyarakat pembaca untuk dinikmati, dipahami dan dimanfaatkan. Dengan demikian karya sastra bukanlah suatu uraian-uraian kosong atau khayalan yang sifatnya sekedaer menghibur saja tetapi melalui karya sastra dihidupapkan lebih arif dan bijaksana dalam bertindak dan berpikir karena pada karya sastra selalu berisi masalah kehidupan manusia nyata. Jadi tidak salah dikatakan bahwa karya sastra adalah cermin kehidupan masyarakat.
Sastra masyarakat adalah salah satu bentuk seni dan tradisi masyarakat lokal yang cukup tua, dituturkan dari generasi ke generasi dan pengarangya tidak di kenal. Sastra yang ada pada masyarakat lokal sangat banyak ragamnya. Ada yang ditulis dan ada yang dituturkan, ada yang dinyanyikan dengan alat musik ada pula tanpa alat musik. Cerita dan puisi tradisional masyarakat lokal pada umumnya memuat tentang hal-hal yang berhubungan dengan kepercayaan, keberania, kepahlawanan, kejadia-kejadian alam, kisah raja-raja dan cerita binatang. Didalam terkandung unsur contoh-contoh kehidupan manusia masa lalu, sikap mental, keberania,kepahlawanan, kepadain, kepatuhan yang yang ingin ditanamkan kepada pribadi anak.
Banyak cerita dan puisi yang telah membudaya dan telah menjadi milik masyarakat banyak diantara sastra Latu tradisional yang serbah indah dan unik, tetapi sayangn keindahan itu telah menuju kepada kepunahan yang terjadi karena makin berkurangnya seniman dan penikmatnya, Pada saat sekarang perhatian masyarakat di desa Latu terhadap kesusastraaan lisan sudah kurang diminati. Cerita lisan yang pada masyarakat tradisional sangat besar perannya untuk memberikan pengajaran dan penghiburan agaknya sudah tergeser posisinya oleh masuknya sarana hiburan modern.
Tradisi lisan, sejarah lisan, dan sejarah local Sebagai bagian dari kelisanan, sejarah lisan memiliki karakter yang berbeda dengan tradisi lisan. Sejarah lisan dimaksudkan memberi kebenaran” sejarah seperti yang dituturkan oleh para pelakunya atau oleh pihak-pihak yang (merasa) mempunyai pengalaman sejarah yang bersangkutan. Tradisi lisan tidak harus memiliki “beban” semacam itu karena penutur dapat berkilah dengan mengatakan, “kisah ini didapatkan dari leluhur saya dan mohon maaf bila terdapat kesalahan karena patik sekedar menuturkan kembali.” Proses pewarisan yang telah berjalan secara turun-temurun dan adanya interaksi langsung antara penutur dan masyarakatnya / penontonnya merupakan dua hal pokok dalam proses penciptaan tradisi lisan. Kedua hal ini akan dibicarakan lebih lanjut di bawah ini, tetapi sebelumnya perlu kiranya melihat benang merah di antara sejarah lisan dan tradisi lisan, yaitu konsep mengenai “kelisana"
Dalam khazanah kesusastraan Melayu kuno, tradisi sastra lisan, baik yang berbentuk syair maupun prosa, merupakan corak kekhasan tersendiri yang terbangun melalui relasi lajur sejarah yang panjang. Satu tradisi dari bangsa Yunan (China) yang diyakini sebagai nenek moyang bangsa Indonesia, dan satu tradisi dari ranah India ketika ajaran Hindu-Buddha menjadi sistem kepercayaan utama masyarakat, ditambah oleh sumbangan tradisi Arab-Islam yang disebarkan oleh para musafir Timur Tengah, tak pelak menjadi unsur sejarah teramunya corak kekhasan tradisi sastra lisan bangsa Indonesia yang asli.
Di dalam tiga tradisi yang berbeda tersebut, secara simultan meniscayakan terjadinya dialektika budaya yang diharapkan saling mengisi dan melengkapi. Ekpresi estetik tradisi sastra lisan Indonesia dalam bentuk mantra, tembang macapat, cerita rakyat, hikayat-hikayat, atau pun syair pantun serta gurindam yang berkembang di Indonesia menjadi serangkaian manifestasi dialektika dari tiga unsur kebudayaan kuno tersebut.
Corak khas tradisi sastra lisan pada akhirnya mendapatkan tempat dan menemukan bentuknya masing-masing di tiap-tiap daerah dalam ruang etnis dan suku yang mengusung flok budaya dan adat yang berbeda-beda. Heddy Shri Ahimsa-Putra (1966) mengatakan bahwa sebagai salah satu bentuk ekspresi budaya masyarakat pemiliknya, tradisi sastra lisan tidak hanya mengandung unsur-unsur keindahan (estetik), tetapi juga mengandung berbagai informasi tentang nilai-nilai kebudayaan tradisi yang bersangkutan. Oleh karena itu, sebagai salah satu data budaya, sastra lisan dapat diperlakukan sebagai gerbang untuk memahami salah satu atau keseluruhan unsur kebudayaan daerah yang bersangkutan.
Tradisi sastra lisan ini bertahan cukup lama dan telah menjadi semacam ekspresi estetik masyarakat dalam tiap-tiap daerah atau suku yang tersebar seantero Nusantara. Namun, ketika sebagian kalangan menganggap bahwa tradisi sastra tulis itu mempunyai nilai lebih tinggi dalam konteks ihwal pembangunan karakter bangsa yang lebih maju dan mengikuti perkembangan arus zaman, maka eksistensi tradisi lisan terlihat semakin dekaden, bahkan hampir saja punah.
Fenomena "penganaktirian" sastra lisan ini pada dasarnya tidak sejalan dengan realitas empiris sejarah yang menunjukkan bahwa sastra lisan dan sastra tulis tidak sekadar hidup berdampingan, tetapi keduanya menciptakan keterpaduan menyangkut konvensi atau struktur, baik pada genre syair maupun cerita rakyat. Sastrawan Sapardi Djoko Damono (1999) menunjukkan bahwa puisi Indonesia modern, yang notabene adalah sastra tulis, merupakan bagian urgen dari konvensi kelisanan. Bahkan, menurutnya, piranti puitis yang kini lekat menjadi idiomatis dalam puisi Indonesia modern, seperti rima, irama, metrum, aliterasi, asonansi, repetisi, paralelisme, dan onomatope, terinspirasi oleh tradisi lisan seperti pantun dan mantra.
Bertolak dari fenomena tersebut, tampaknya menjadi semacam keniscayaan bahwa tradisi lisan merupakan sumber paling utama bagi penciptaan sastra tulis. Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa sastra lama sebagai penunjang berkembangnya sastra modern. Lalu yang menjadi pertanyaan, mengapa tradisi sastra lisan mesti "dianaktirikan" dari pada sastra tulis?
Persoalan ini, tidak bisa lepas dari konsepsi "kemapanan", suatu corak yang dibawa oleh modernisme. Tradisi lisan yang merupakan corak masyarakat kuno (awam), dipandang misalnya oleh Ayu Sutarto (2004) dan Daniel Dhakidae (1996), sebagai penghambat kemajuan bangsa. Supaya suatu bangsa menjadi maju seiring arus zaman, maka tradisi lisan harus diubah kepada budaya menulis, karena tradisi tulis-menulis selalu identik dengan kemajuan sebuah peradaban keilmuan. Pendapat ini menciptakan adanya tendensi "penganaktirian" dan seakan mengabaikan terhadap terjadinya suatu paralelisme dari kedua konsepsi (lisan dan tulis) yang sesungguhnya bersifat kesatuan dan keseluruhan itu. Tapi, apakah semangat pemberdayaan budaya tulis menjadi umpan-balik pengabaian terhadap tradisi lisan?
Jika kita sadari, tradisi lisan merupakan salah satu bentuk semangat, harga diri dan tradisi bangsa Indonesia. Tradisi lisan yang berkembang sebagai corak kebudayaan kita yang azali dalam dimensi dan aspek apa pun saja pada akhirnya akan mengundang decak kagum bangsa-bangsa asing, sehingga mempunyai nilai tawar yang cukup tinggi nantinya di "pasar budaya" global. Apalagi dewasa ini, di mana sekat-sekat ruang budaya tidak lagi dapat mempertahankan dirinya dari arus zaman, kehadiran tradisi sastra lisan dari berbagai banyak modelnya akan mengesankan bahwa bangsa Indonesia tidak lupa dan tidak gampang melupakan sejarah tumpah darahnya.
Selain dari pada itu, terciptanya paralelisme antara tradisi tulis dan tradisi lisan akan semakin memperkaya khazanah kesusastraan kita. Paralelisme di sini dimaksudkan sebagai kerangka konseptual yang mencoba untuk mengintegrasikan antara dua kebudayaan atau lebih. Paralelisme, dalam arti yang sebenarnya, tidak mengharapkan terciptanya konstruksi budaya baru (komodifikasi budaya) dari dua kebudayaan yang berbeda, tetapi ingin memenuhi niatan bahwa pelestarian budaya adalah hal yang niscaya untuk dilakukan.
Pelestarian tradisi sastra lisan semestinya bersanding dengan pemberdayaan tradisi sastra tulis, karena dua kebudayaan ini merepresentasikan kekayaan khazanah kesusastraan kita. Fungsi dari unsur-unsur kebudayaan ini adalah dipergunakan untuk memelihara keutuhan konstruksi dua kebudayaan tersebut, selain juga untuk memuaskan sebentuk rangkaian dari sejumlah kebutuhan naluri kehidupan kita yang harus disadari.
Dengan demikian, pemenuhan tujuan akan suatu kebudayaan sesungguhnya terletak pada bagaimana kebudayaan itu dapat dilestarikan sepanjang zaman. Karenanya, yang berkenaan dengan "penganaktirian" atau "penomorduaan" suatu kebudayaan daripada kebudayaan lain semestinya tidak harus ada, karena pada hakikatnya seluruh entitas kebudayaan senantiasa membentuk suatu jejaring hidup antara satu dan lainnya. Demikian juga dengan persoalan ini, bahwa tradisi sastra lisan tidak harus dipisahkan atau bahkan "dianaktirikan" dari pada tradisi sastra tulis.
hancurkan tirai kusut dan tua sioo nusa ina bukti sejarah
sombar waringin dari nunu saku tifa murkele game dong bale
hutan dan rimba suda babunga tahuri babunyi diujung binaya
siooo basudara yang satu darah ana cucu siwa lima katong buka suara
pombo putih kapata damai. Seisi bahtera bersuka ria sinar
sejarah damaikan Maluku siooo basudara yang satu darah
nusa ina tu rumah tua nunu siwa lima ooo pombo putih kapata damai
seisi bahtera bersuska ria tahuri babunyi di gunung binaya
Sinar sejarah damaikan Maluku.
Sepengal syair lagu SATU DARA yang dilantungkan oleh MAINORO sekumpulan anak Maluku, ketika termenung saya selalu menikmati dan menghayati isi yang terkandung dalam bait demi bait lantuana syair lagu ini. Sekiranya yang saya dapat dari lagu ini adalah Suatu cerita yang diyakini benar adanya oleh suatu kelompok masyarakat tertentu yang berhubungan dengan jati diri dan identitas masyarakat itu yang dapat saja hadir dengan versi-versi yang berbeda dalam kalangan masyrakat Maluku khususnya masyarakat Maluku Tengah.
Ketika duduk di sampaing nenek sambil menikmati cahaya rembulan, merupakan kenangan manis masa kecil dengan dongen dan febal yang diceritakan padaku. Suatu kata berhikmah selalu mengawali cerita" cerita ini bohong cucu" tapi nenek tidak bohong padamu" lantas sang nenek bercerita tentang binatang-binatang yang bisa bercerita, mulai dari burung yang mendendangkan syair yang begitu syadu, sampai pada sang pahlawan yang gagah berani. Semua itu sang nenek menceritakannya sambil mengajak cucucnya memandang rembulan melalu sela dedaunan, seakan sebuah eksplorasi penyadaran image-visi-sikap bahwa kita punya negeri, Istimewahnya, usapan lembut tangan nenek terasa mengalirkan kehangatan tiada henti. Dengan logika pendek, agaknya binatang yang bicara sang pahalawan dengan kepala naga yang berkuasa memeng Cuma sebuah kebohonga.
Sungguh aku tidak pernah memahami tentang arti kebohongan yang tidak bohong, sampai sekian puluh tahun berlalu, ketika sang cucu kini menjadi seorang perantau, baruhlah sadar bahwa yang tidak bohong itu adalah nilai kebenaran dalam bentuk ungkapan filosofi serta ketulusan nurani kasih-sayang. Sebab hanya nenek yang punya ksih-sayanglah yang punya waktu untuk berbagi rasa. Tidak pernah kuduga, jika semua itu akan ikut membentuk kepribadianku sebagai anak di Nusantara, melalui itu pula saya mengenal anak yang lain di persada Nusantara.
Sepengal kenangan di atas memberikan gambaran betapa sastra lisan dapat berfungsi sebagai media pendidika. Kendati dudah melampaui bulan dan tahun, namun syair-syair indah yang diungkapkan sang nenek dengan nilai budayanya yang kain mengakar, begitu kuat terukir dihati, sastra lisan sebenarnya suda terpihakan dari kehidupan leluhur pada masa lampau.
Syair di atas dapat diarti juga sebagai sastra lisan karena ungkapan yang didalamnya terdapat unsur-unsur cerita lisan,seperti yang diungkapkan Sumardjo (1979:30) Karya sastra adalah ungkapan pikiran dan perasaan seseorang pengarang dalam usahanya untuk menghayati kejadian-kejadian yang ada disekitarnya, baik yang dialaminya maupun yang terjadi pada orang lain pada kelompok masyarakatnya. Hasil imajinasi pengarang tersebut dituang ke dalam bentuk karya sastra untuk dihidangkan kepada masyarakat pembaca untuk dinikmati, dipahami dan dimanfaatkan. Dengan demikian karya sastra bukanlah suatu uraian-uraian kosong atau khayalan yang sifatnya sekedaer menghibur saja tetapi melalui karya sastra dihidupapkan lebih arif dan bijaksana dalam bertindak dan berpikir karena pada karya sastra selalu berisi masalah kehidupan manusia nyata. Jadi tidak salah dikatakan bahwa karya sastra adalah cermin kehidupan masyarakat.
Sastra masyarakat adalah salah satu bentuk seni dan tradisi masyarakat lokal yang cukup tua, dituturkan dari generasi ke generasi dan pengarangya tidak di kenal. Sastra yang ada pada masyarakat lokal sangat banyak ragamnya. Ada yang ditulis dan ada yang dituturkan, ada yang dinyanyikan dengan alat musik ada pula tanpa alat musik. Cerita dan puisi tradisional masyarakat lokal pada umumnya memuat tentang hal-hal yang berhubungan dengan kepercayaan, keberania, kepahlawanan, kejadia-kejadian alam, kisah raja-raja dan cerita binatang. Didalam terkandung unsur contoh-contoh kehidupan manusia masa lalu, sikap mental, keberania,kepahlawanan, kepadain, kepatuhan yang yang ingin ditanamkan kepada pribadi anak.
Banyak cerita dan puisi yang telah membudaya dan telah menjadi milik masyarakat banyak diantara sastra Latu tradisional yang serbah indah dan unik, tetapi sayangn keindahan itu telah menuju kepada kepunahan yang terjadi karena makin berkurangnya seniman dan penikmatnya, Pada saat sekarang perhatian masyarakat di desa Latu terhadap kesusastraaan lisan sudah kurang diminati. Cerita lisan yang pada masyarakat tradisional sangat besar perannya untuk memberikan pengajaran dan penghiburan agaknya sudah tergeser posisinya oleh masuknya sarana hiburan modern.
Tradisi lisan, sejarah lisan, dan sejarah local Sebagai bagian dari kelisanan, sejarah lisan memiliki karakter yang berbeda dengan tradisi lisan. Sejarah lisan dimaksudkan memberi kebenaran” sejarah seperti yang dituturkan oleh para pelakunya atau oleh pihak-pihak yang (merasa) mempunyai pengalaman sejarah yang bersangkutan. Tradisi lisan tidak harus memiliki “beban” semacam itu karena penutur dapat berkilah dengan mengatakan, “kisah ini didapatkan dari leluhur saya dan mohon maaf bila terdapat kesalahan karena patik sekedar menuturkan kembali.” Proses pewarisan yang telah berjalan secara turun-temurun dan adanya interaksi langsung antara penutur dan masyarakatnya / penontonnya merupakan dua hal pokok dalam proses penciptaan tradisi lisan. Kedua hal ini akan dibicarakan lebih lanjut di bawah ini, tetapi sebelumnya perlu kiranya melihat benang merah di antara sejarah lisan dan tradisi lisan, yaitu konsep mengenai “kelisana"
Dalam khazanah kesusastraan Melayu kuno, tradisi sastra lisan, baik yang berbentuk syair maupun prosa, merupakan corak kekhasan tersendiri yang terbangun melalui relasi lajur sejarah yang panjang. Satu tradisi dari bangsa Yunan (China) yang diyakini sebagai nenek moyang bangsa Indonesia, dan satu tradisi dari ranah India ketika ajaran Hindu-Buddha menjadi sistem kepercayaan utama masyarakat, ditambah oleh sumbangan tradisi Arab-Islam yang disebarkan oleh para musafir Timur Tengah, tak pelak menjadi unsur sejarah teramunya corak kekhasan tradisi sastra lisan bangsa Indonesia yang asli.
Di dalam tiga tradisi yang berbeda tersebut, secara simultan meniscayakan terjadinya dialektika budaya yang diharapkan saling mengisi dan melengkapi. Ekpresi estetik tradisi sastra lisan Indonesia dalam bentuk mantra, tembang macapat, cerita rakyat, hikayat-hikayat, atau pun syair pantun serta gurindam yang berkembang di Indonesia menjadi serangkaian manifestasi dialektika dari tiga unsur kebudayaan kuno tersebut.
Corak khas tradisi sastra lisan pada akhirnya mendapatkan tempat dan menemukan bentuknya masing-masing di tiap-tiap daerah dalam ruang etnis dan suku yang mengusung flok budaya dan adat yang berbeda-beda. Heddy Shri Ahimsa-Putra (1966) mengatakan bahwa sebagai salah satu bentuk ekspresi budaya masyarakat pemiliknya, tradisi sastra lisan tidak hanya mengandung unsur-unsur keindahan (estetik), tetapi juga mengandung berbagai informasi tentang nilai-nilai kebudayaan tradisi yang bersangkutan. Oleh karena itu, sebagai salah satu data budaya, sastra lisan dapat diperlakukan sebagai gerbang untuk memahami salah satu atau keseluruhan unsur kebudayaan daerah yang bersangkutan.
Tradisi sastra lisan ini bertahan cukup lama dan telah menjadi semacam ekspresi estetik masyarakat dalam tiap-tiap daerah atau suku yang tersebar seantero Nusantara. Namun, ketika sebagian kalangan menganggap bahwa tradisi sastra tulis itu mempunyai nilai lebih tinggi dalam konteks ihwal pembangunan karakter bangsa yang lebih maju dan mengikuti perkembangan arus zaman, maka eksistensi tradisi lisan terlihat semakin dekaden, bahkan hampir saja punah.
Fenomena "penganaktirian" sastra lisan ini pada dasarnya tidak sejalan dengan realitas empiris sejarah yang menunjukkan bahwa sastra lisan dan sastra tulis tidak sekadar hidup berdampingan, tetapi keduanya menciptakan keterpaduan menyangkut konvensi atau struktur, baik pada genre syair maupun cerita rakyat. Sastrawan Sapardi Djoko Damono (1999) menunjukkan bahwa puisi Indonesia modern, yang notabene adalah sastra tulis, merupakan bagian urgen dari konvensi kelisanan. Bahkan, menurutnya, piranti puitis yang kini lekat menjadi idiomatis dalam puisi Indonesia modern, seperti rima, irama, metrum, aliterasi, asonansi, repetisi, paralelisme, dan onomatope, terinspirasi oleh tradisi lisan seperti pantun dan mantra.
Bertolak dari fenomena tersebut, tampaknya menjadi semacam keniscayaan bahwa tradisi lisan merupakan sumber paling utama bagi penciptaan sastra tulis. Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa sastra lama sebagai penunjang berkembangnya sastra modern. Lalu yang menjadi pertanyaan, mengapa tradisi sastra lisan mesti "dianaktirikan" dari pada sastra tulis?
Persoalan ini, tidak bisa lepas dari konsepsi "kemapanan", suatu corak yang dibawa oleh modernisme. Tradisi lisan yang merupakan corak masyarakat kuno (awam), dipandang misalnya oleh Ayu Sutarto (2004) dan Daniel Dhakidae (1996), sebagai penghambat kemajuan bangsa. Supaya suatu bangsa menjadi maju seiring arus zaman, maka tradisi lisan harus diubah kepada budaya menulis, karena tradisi tulis-menulis selalu identik dengan kemajuan sebuah peradaban keilmuan. Pendapat ini menciptakan adanya tendensi "penganaktirian" dan seakan mengabaikan terhadap terjadinya suatu paralelisme dari kedua konsepsi (lisan dan tulis) yang sesungguhnya bersifat kesatuan dan keseluruhan itu. Tapi, apakah semangat pemberdayaan budaya tulis menjadi umpan-balik pengabaian terhadap tradisi lisan?
Jika kita sadari, tradisi lisan merupakan salah satu bentuk semangat, harga diri dan tradisi bangsa Indonesia. Tradisi lisan yang berkembang sebagai corak kebudayaan kita yang azali dalam dimensi dan aspek apa pun saja pada akhirnya akan mengundang decak kagum bangsa-bangsa asing, sehingga mempunyai nilai tawar yang cukup tinggi nantinya di "pasar budaya" global. Apalagi dewasa ini, di mana sekat-sekat ruang budaya tidak lagi dapat mempertahankan dirinya dari arus zaman, kehadiran tradisi sastra lisan dari berbagai banyak modelnya akan mengesankan bahwa bangsa Indonesia tidak lupa dan tidak gampang melupakan sejarah tumpah darahnya.
Selain dari pada itu, terciptanya paralelisme antara tradisi tulis dan tradisi lisan akan semakin memperkaya khazanah kesusastraan kita. Paralelisme di sini dimaksudkan sebagai kerangka konseptual yang mencoba untuk mengintegrasikan antara dua kebudayaan atau lebih. Paralelisme, dalam arti yang sebenarnya, tidak mengharapkan terciptanya konstruksi budaya baru (komodifikasi budaya) dari dua kebudayaan yang berbeda, tetapi ingin memenuhi niatan bahwa pelestarian budaya adalah hal yang niscaya untuk dilakukan.
Pelestarian tradisi sastra lisan semestinya bersanding dengan pemberdayaan tradisi sastra tulis, karena dua kebudayaan ini merepresentasikan kekayaan khazanah kesusastraan kita. Fungsi dari unsur-unsur kebudayaan ini adalah dipergunakan untuk memelihara keutuhan konstruksi dua kebudayaan tersebut, selain juga untuk memuaskan sebentuk rangkaian dari sejumlah kebutuhan naluri kehidupan kita yang harus disadari.
Dengan demikian, pemenuhan tujuan akan suatu kebudayaan sesungguhnya terletak pada bagaimana kebudayaan itu dapat dilestarikan sepanjang zaman. Karenanya, yang berkenaan dengan "penganaktirian" atau "penomorduaan" suatu kebudayaan daripada kebudayaan lain semestinya tidak harus ada, karena pada hakikatnya seluruh entitas kebudayaan senantiasa membentuk suatu jejaring hidup antara satu dan lainnya. Demikian juga dengan persoalan ini, bahwa tradisi sastra lisan tidak harus dipisahkan atau bahkan "dianaktirikan" dari pada tradisi sastra tulis.
at
Minggu, Agustus 23, 2009
Posted by
JAMIL PATTY
0
comments
Labels:
Jamil patty..Tradisi Lisan yang terlupakan
Rabu, 19 Agustus 2009
Perjalanan Portugis ke Maluku

Maluku merupakan salah satu Propinsi tertua dalam sejarah Indonesia, dikenal memiliki keanekaragaman sosial budaya dan kekayaan alam yang berlimpah. Secara historis kepulauan Maluku terdiri dari kerajaan-kerajaan Islam yang menguasai pulau-pulau tersebut. Nama Maluku sendiri berasal dari kata Al Mulk yang berarti Tanah Raja-Raja.
Hitam manis rambut keriting, indentik dengan gambaran wajah cantik kepulauan Maluku. Provinsi ini baru saja lepas dari belenggu konflik antar agama yang panjang. Kini, Provinsi dengan Ambon mulai berbenah diri membangun kembali kegiatan wisata yang sempat terhenti, terutama di sekitar kota Ambon. Dengan luas wilayah sekitar 712.479,6 km2, Provinsi Maluku memiliki sejarah panjang akibat basil buminya yang melimpah, terutama rempah-rempah. Adalah para pelaut Cina yang pertama mendarat di pulau-pulau di Maluku dalam rangka perdagangan rempah-rempah pada abad ke-7. Baru pada abad ke-9, datanglah para pedagang dari Timur Tengah. Hingga abad ke-12 dan 14, secara bergantian, kerajaan Sriwijaya dan Majapahit menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku.
Misi bangsa Portugis dipimpin oleh Bartholomeu Dias, seorang pelaut Portugis yang mendapatkan perintah dari Raja Portugis. Pada tahun 1488, Bartholomeu Dias berhasil sampai Tanjung Harapan di ujung selatan Benua Afrika. Namun ia tidak bisa melanjutkan misi perjalanan karena kerusakan kapal. Perjalanan selanjutnya dilakukan oleh Vasco da Gama yang mendarat di Calicut atau India pada tahun 1498. Dari India, pada tahun 1510, Portugis mengirim misi ekspedisi ke timur yang dipimpin oleh Alfonso de Albuquerque. Pada tahun yang sama armada de Albuquerque sampai di Goa, India bagian selatan. Di Goa, de Albuquerque mendengar cerita tentang kekayaan daerah Malaka. Pada tahun 1511, Alfonso de Albuquerque bersama pasukannya menyerang Malak dan berhasil.
Dari Malaka, ekspedisi bangsa Portugis meneruskan perjalanan ke timur di bawah pimpinan Francisco Serro. Bangsa Portugis akhirnya sampai di Ternate, Maluku Utara pada tahun 1512. Setelah menguasai Malaka dan Maluku, bangsa Portugis bermaksud memperluas kekuasaannya ke Pulau Sumatera yang kaya akan lada, Namun usaha dalam merebut pulau Sumatra kurang berhasil karena terdapat Kerajaan Aceh yang mendominasi perdagangan lada di pulau Sumatra. Bangsa Portugis juga memperluas perdaganganya ke Pulau Jawa. Setelah Portugis berhasil menguasai Malaka, pada 1512 Afonso de Albuquerque. Desember 1511, M de Albuquerque, wakil negara Portugis yang berkedudukan di Malaka pertama kalinya mengirimkan ekspedisi tiga kapal menuju wilayah Maluku untuk mencari rempah-rempah. Diikuti oleh Antonio de Abreu dan Fransesco Serrao tiba di Ternate pada tahun 1512. Pada tahun 1521, bangsa Spanyol tiba dengan Kapal Victoria dan Trinidad di Tidore.
Pada tahun 1513, bangsa Portugis mendarat di kepulauan Ambon yang merupakan penghasil cengkeh, tempat ini sekaligus juga merupakan pintu masuk wilayah tersebut . Kemudian dibangunlah sebuah benteng Portugis berikut dengan adanya beberapa peraturan keamanan, yang dibantu oleh sekelompok pemeluk baru agama Kristen yang berfungsi pula sebagai penyangga, dimana mereka bermukim dan berpusat disekitar benteng tersebut, yang kemudian menjadi kota Ambon (ibukota propinsi Maluku yang sekarang).
Mulailah terjadi persaingan hingga menimbulkan perang antara Portugis dan Spanyol. Pada tahun 1522, Portugis yang dipimpin Antonio de Brito berhasil mengusir Spanyol Setelah Spanyol meninggalkan Tidore, bangsa Portugis mulai memonopoli perdagangan rempah-rempah di wilayah Ternate ini. Maka timbulah perlawanan rakyat dari keempat kesultanan dalam melawan monopoli perdagangan. Hal itu juga terjadi saat bangsa lain datang seperti Inggris dan Belanda dengan niat yang lama hingga peperangan melawan penjajah melahirkan beberapa pahlawan nasional
Pada abad ke-16, bangsa-bangsa Eropa mulai datang dan menguasai perdagangan di Maluku. Pertama-tama Portugis, yang datang sambil mengemban misi keagamaan yang dibawa oleh Santo Fransiskus Xaverius. Baru pada abad ke-17 Belanda hadir di Maluku. Sejak itulah kisah heroik perjuangan mengusir penjajah Belanda mulai bergulir. Kehadiran Portugis di perairan dan kepulauan Indonesia itu telah meninggalkan jejak-jejak sejarah yang sampai hari ini masih dipertahankan oleh komunitas lokal di Nusantara, khususnya Maluku. Pengaruh Portugis di wilayah Maluku berdasarkan Sumber data dan peninggalan-peninggalan sejarah berciri Portugis sangat kuat mengakar di wilayah ini (lihat Paramita R. Abdurrachman 2008).
Dalam usaha mendapatkan rempah- rempah, bangsa Lusitania telah memusatkan perhatian mereka pertama-tama kepada kepulawan Maluku dan Banda yang merupakan pusat penghasilan cengkeh dan pala. Baru kemudian, justrus usaha monopoli, penyelundupan cengkeh dari Ternate sebagai produsen cengkeh menurun, maka cengkeh dari Pulau Seram dan Pulau Ambon lebih berarti. Dalam usaha menguasai suatu daerah di mana Portugis dapat tinggal dengan aman dan dapat berdagang dapat juga diduga sebagai factor keseimbangan terhadap kekuasaan kesultanan Ternate. Pusat perdagangan Portugis menjadikan Pulau Ambon sebagai daerah kekuasaannya, perhataian pihak Portugis bukan saja Pulau Ambon namun juga pulau-pulau di sekitaranya seperti Pulau Seram, Buru, Leasa dan pulau-pulau yang ada disekitaranya.
Peninggalan Portugis telah berkumpul di kepulawan Maluku, dalam riwayat portugis ke kepulawan Maluku terutama Ternate, Ambon-Lease dan bagian dari Tidore dan Seram, dimana pada suatu waktu telah terdapa benteng-benteng dan Bandar dagang yang menjadi pemusatan bagi Portugis. Peninggal di Pulau Ambon merupakan suatu kasus tersendiri, yang jelas dalam hubungan timbal-balik antara orang Portugis dan orang pribumi, Politik raja-raja Portugis sebagaimana yang telah diperbaharui oleh Henry Pelaut, ialah pembentukan feitoria (kota perdagangan), menghadiahkan tanah (doacao) companhia dan monopoli di Maluku yang memerlukan tenaga kerja dari pihak Portugis yang bekerja sama dengan orang pribumi untuk mengokohkan politik meraka di tanah Maluku. Raja Muda Alfonso, semasa pemerintahanya (1509-1515) menganjurkan secara tegasa, agar mereka yang turut dalam perdagangan rempah-rempah sebaiknya kawin dengan pribumi, dengan kemikina kepentinagan Portugis dapat dijami oleh orang-orang yang hatinya tetep dan tidak cepat-cepat kembali ke tanah airnya, melaikan memanam akar di negeri baru, dan kemudia nanam akar bagi kepentingan Portugis. Menurut pihak portugis kebijakan ini merupakan jalan terbaik untuk tetep mengekalkan kuasanya di Maluku
Peningalan Portugis yang bersifat sejarah atau peningalan-peningalan yang menjadi tapak tilas kejayaan Portugis di Maluku, juga terfokus kepada bahasa yang hinga kini masih digunakan pada masyarakat Maluku ( bahasa yang digunakan bukan secara umum, beberapa entri kata yang masih tersisah dan masih digunakan sebagai bahasa pinjama). Seperti beberapa contoh kata ini
Beberapa contoh Kata serapan Melayu Ambon dari Eropa antara lain:
Bandera(bendera): Bandeira (Portugal)
Ose/Os (kamu) : Voce/Os (Portugal)
Pai (ayah) : Pai (Portugal)
Mai (ibu) : Mai (Portugal
Galojo (rakus) : Guloso (Portugal)
Kadera (kursi) : Cadeira (Portugal)
Kapitein (Belanda)/ Capitao (Portugal)
Marinyo (penyuluh) : Meirinho (Portugal)
Patatas (kentang) : Batatas (Portugal))
Kasbi (singkong) : Cassava (Portugal)
Testa (dahi) : Testa (Portugal)
Par (untuk) : Para (Portugal)
Marsegu (kelelawar) : Morcego (Portugal)
Gargantang (tenggorokan) : Garganta (Portugal)
Kintal (pekarangan) : Quintal (Portugal)
Konyadu (ipar) : Cunhado (Portugal)
Capeo topi
Capatu sepetu
kadera (Ambon) = cadeira (Portugis.)
kawalo (Ambon) = cavalo (Portugis.) = kuda
panada (Ambon) = panada (Portugis.) = roti isi
tuturuga (ambo) = tartaruga (Portugis.) = penyu
tempo (tempo)
Bahasa Melayu sebagai gua franca daerah semenanjung Melaka (Malaysia), Sumatera dan pulau-pulau lainya, yaitu bahasa Melayu sudah tentu dipelajari untuk berhubungan dalam hal perdagangan mahupun sebagai bahasa sehari-hari untuk berkomunikasi dengan orang-orang pribumi di Nusantara. Pada saat orang-orang Portugis sampai di Maluku, tepatnya di Pulau Ambon lingua faranca inipun ditemui di Pulau Ambon yang masyarakatnya mengunakan bahasa Melayu sebagai bahasa komunikasi. Sementara bahasa daerah (bahasa tanah) yang digunakan di Maluku terlampau berbeda untuk dapat digunakan sebagai bahasa perantara dan dapat dikara bahwa pemasukan ide baru, baik dalam hal agama, perdagangan tidak terkecuali juga bahasa.
Pigafetta dalam buku catatanya telah membuat satu daftar kata Melayu-Italia, walaupun ejan dari kata-kata Indoensia telah menggambarkan pengaruh suatu dialek local, namun dapat disimpulkan taraf hubungan antara pendatang dan politik dalam hubungan ini terutama terdapat dalam perdagangan dan politi local agama dan kehidupan sehari-hari.sementara komunikasi antara raja-raja di Maluku dengan raja Portugis mengunakan bahasa Melayu kemudian oleh pihak portugis diterjemahkan kedalam bahasa portugis, tetapi surat menyurat antar raja pribumi dengan raja protugis diganti dengan bahasa Portugis mungkin karena Portugis telah menjadi penguasa tunggal pada saat itu. Dapat diduga hal ini karena orang Portugis berusaha untuk mengajar bahasa mereka dan karena sistim fonetik bahasa Portugis tidak terlalu sulit untuk dipelajari oleh orang-orang pribumi Maluku
Bahasa Portugis, sekitar tahun 1540 dan selanjutnya telah umum digunakan di kota Malaka, Goa, dan juga Maluku yang menjadi bahasa pengantar bagi bolongan atasan, sipil,militer, pedangan. Para sultan di Maluku dan raja-raja di Pulau Ambon (Hitu) yang melawat ke Malaka dalam berhubungan dengan benteng portugis mengunakan bahasa Portugis, dalam dokumen-dokumen portugis sultan hairun (Sultan Ternate) disebut sebagai seorang ahli bahasa dan sastra Portugis. Pengaruh bahasa Portugis terhadap masyrakat Maluku waktu itu sehinga membuat banyak pemebendaharan kata dalam bahasa portugis kedalam bahasa Melayu Ambon, Conto diatas
Pengaruh kembudayaan yang masih tersa bagi orang Maluku saat ini selain adanya benteng-benteng peningalan bangsa Portugis di Maluku, pengaruh pertugis lainnya adalah dengan adanya nama-nama keluarga atau lebih lajim sebutan orang Ambon fam yang berasal dari portugis yang dapat kita temui di tengah-tengah masyarakat Maluku seperti Costa, de Fretes, Pareira, da Silva, dan sebagainya. Pengaruh Portugis ini disebabkan karena kebijakan politik yang bangsa Portugis untuk mengekalkan kedudukannya di Maluku, dimana para pedagang dari Portugis harus beristrikan orang pribumi, demikian pula denagn gelar kebangsawan yang digunakan oleh pemuka-pemuka pribumi seperti gelar Dom telah diberikan sejak tahun1512 oleh Fransisco Serrao kepada Jamilu salah seorang dari empat perda hitu, pemberian gelar ini adalah prerogative Raja Portugis dan hak pemakaian langsung dari keturunan seorang raja.
Satu golongan yang mempunyai kedudukan yang kuat sebagai perdangang dari Bangsa Portugis adalah orang kaya, walaupun Portugis berusaha untuk mendapatkan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku, namun saudagar-saudagar dari daerah lain masi tetap datang berdagang dimana kebun rempah-rempah sudah melusa keberbagai daerah dan tidak terbatas hak milik tanah oleh raja saja. Kedudukan angota-angota negeri yang mempunyai tanah dan dapat memperdagangkan hasil kebunnya dengan untuk yang banyak, kelompok-kelompok orang kaya ini kemungkinan bermunculan pada waktu berdatangan saudagar-saudagar dari Jambi,Malaka dan Jawa yang tiba diperairan Maluku, Golongan ini pertama kalinya terdapat di Banda dan tidak termasuk dalam hirarki susunan adat. Namun, lambat laun mereka mulai memegang peranan sebagai pemuka Masyarakat walaupun tetap membayar upeti kepada Raja.
Penginjilan yang dilakukan padri-padri yang langsung hidup di tengah-tengah masyarakat telah meyebarkan agama Kristen Katolik kepada masyarakat Maluku walaupun agama Kristen Katolik dalam kekuasan Belanda secara sistematis diganti dengan penginjilan agama Kristen protestan, walapun demikian ritual-ritual agama Katolik masi bersisa dalam tata cara Protestan. Pada waktu Franciscus Xavir berada di Malaka, menjelang keberangkatanya ke Maluku dalam tahun 1546 ia telah merasa untuk keperluan terjemahan ajaran-ajaran Katolik ke dalam bahasa Melayu untuk mempermudah penyebaran agamanya. Semetara peningalan Portugis lain yang masi terjaga dalam masyarkat Maluku seperti paikan (pakain adat), musik dan kesenian lainya perubahan dalam pakain ternyata dari kata-kata sapatu, cinela, kalsong.. tarian yang masih terisa seperi tarain polones, wals, quadrille, dan polka, kemungkina tarian-tarian ini masuk Indonesia pada abad ke-19 tetap tarian ini disebut portugis. Tarian-tarian ini dibawa oleh pelaut-pelaut Portugis yang masuk ke Maluku
Langganan:
Postingan (Atom)