Minggu, 26 Juli 2009

PERGESERAN BAHASA DAERAH AMBON


Setiap bahasa adalah abstrak. Dengan lambang yang mewakili bendanya, setiap bahasa mempunyai peraturan dan kaedah-kaedah. Mengakui fonologi sebagai ujur, sedangkan fonem sebagai sifat-sifat fonologi yang relevan yang menjadi bahagian daripada gambaran bunyi; sebagai kesatuan bunyi terkecil dengan fungsi yang berbeba-beba sebagai sifat distingtif perkataan

Nusantara adalah daerah yang luas, terdiri dari berbagai pulau kecil maupun Pulau besar. Di Nusantara terdapat keanekaragaman suku dan juga bahasa yang membina budaya majemuk, walaupun masyarakat Nusantara rata-rata menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. Walaupun demikian, masyarakat Nusantara masih menggunakan bahasa daerah yang menjadi ciri khas daerah masing-masing. Umpamanya bahasa-bahasa daerah di Maluku digunakan sebagai bahasa tutur lisan, yang berkedudukan sebagai bahasa sehari-hari. Memang di Indonesia bahasa daerah adalah salah satu unsur budaya negara yang dilindungi

Para linguis telah berupaya untuk menentukan batas-batas kebahasaan dan memetakan bahasa-bahasa Maluku, untuk menyugusakan suatu gambaran yang mutakhir tentang penyajian bahasa. Walaupun sebahagian usaha telah dilakukan dalam melakukan kajian dan mendokumentasikan pelbagai bahasa yang ada di daerah Maluku yang terpisah-pisah oleh pelbagai pulau, tidaklah menghairankan bahawa berpuluh-puluh bahasa dituturkan di Pulau Seram; kesemuanya bahasa Austronesia (Collins 1982, 1983). Penulis barat mulai menulis tentang jumlah bahasa di Maluku pada abad ke-16 (Collins 1980b), ada yang berpendapat bahwa setiap kampung menggunakan bahasa yang berbeda-beda. Maka dapat dikatakan bahawa pada abad ke-17 nama beberapa bahasa daerah terutama di Ambon-Uliase sudah dikenal. Tetapi tidak diusahakan deskripsi apalagi diklasifikasikan. Perhatian yang mendalam terhadap bahasa daerah belum muncul. Dalam hal pelestarian bahasa bukan sahaja yang sudah hampir punah atau yang memang sudah punah yang harus direhabilitasi dan diselamatkan, bahasa yang masih digunakan dan masih diketahui masyarakat memerlukan bantuan untuk mendekomentasikan bahasa-bahasa yang ada di Maluku yang telah semakin ditinggalkan oleh penuturnya.

Sejak abad ke-16 Maluku terkenal sebagai daerah multilingual. Pada abad ke-17 mulai disebut beberapa nama bahasa yang berada di Pulau Buru, Seram dan Saparua; bahasa yang dituturkan di Maluku muncul dalam dialek yang sangat banyak mungkin sama dengan jumlah kampung yang ada di Maluku. Menurut sarjana Jerman G. Rumphius yang tinggal di Pulau Ambon pada abad ke-17, Pulau Ambon dialek Hatiwe dan di wilayah Islam dialek Hitu, yang dianggap paling bagus.

Menurut Rumphius dialek yang dituturkan di Ambon menggunakan banyak vokal dan lafalannya seakan-akan tersekat-sekat. Namun kini bahasa Hatiwe sudah punah dan tidak dituturkan di kampung Hatiwe lagi. Sejak ratusan tahun lalu bahasa Melayu mempunyai peranan yang sangat kuat di Maluku. Bahkan masyarakat Maluku mulai meninggalkan bahasa daerahnya sehingga dari 80 bahasa yang pernah ada di Maluku tinggal hanya beberapa kampung yang menggunakan bahasa daerahnya. Pada abad ke-16 bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa komunikasi perdagangan dan pada waktu itu juga bahasa Melayu dipilih oleh tokoh Kristen sebagai bahasa untuk urusan Gereja. Dengan demikian terjadilah pergeseran dari bahasa daerah Maluku (Ambon) ke bahasa Melayu. Mungkin pergeseran bahasa pada abad ke-16 sampai pada abad ke-18 menyebabkan terjadinya perubahan bahasa dikalangan masyarakat Maluku

Pada abad ke-17 kota Ambon terombang ambing dengan arus sosial yang bergelora dengan intensiti yang luar biasa. Selain pergantian kekuasan kolonial dari tangan Portugis ke Belanda (VOC), sepanjang abad ke- 17 pemberontakan, hukum penggusuran dan pemindahan penduduk secara paksa, gempa bumi serta kondisi ekonomi dan sosial (Rumphius 1910, 1983, 1675) menyebabkan bahasa daerah mulai ditinggalkan dan rakyat beralih bahasa sehingga menggunakan bahasa Melayu. Pada pertengahan abad ke-19 seorang penginjil Belanda A. Van Ekris yang bertugas di Kamarian (Pulau Seram), menyusun kosa kata sebelas bahasa di daerah Seram dan Ambon yang terbagi dalam tiga bahagian yang hampir 90 halaman. Semua data itu dibandingkan dengan bahasa Kamarian kerana ia lebih menguasai bahasa itu. Seterusnya Baron G.w.c. van Hoëvell mengajukan klasifikasi bahasa tentang Seram dan Ambon yang cukup komprehensif. Namun van Hoëvell tidak memberikan dasar perbebaan yang digunakannya dalam proses yang menghasilka data tentang bahasa di Maluku

Hilangnya bahasa daerah di beberapa desa di Maluku Tengah maupun di Ambon khususnya desa-desa kristen tidak terlepas penjajahan (Pada tahun 1605, 400 ratus tahun lalu, pihak penguasa Portugis menyerahkan kota Ambon dan jajahannya kepada angkatan perang Belanda. Dengan kemenangan itu, buat pertama kalinya Belanda memperoleh tapak dan kuasa politik di Nusantara. Berbeba dengan prnguasa kolonial Portugis, sistem penjajahan Belanda tidak diurus oleh raja dan kerabatnya yang membagi-bagi anugerah dan surat) Belanda selama lebih kuran 350 tahun di Maluku. Pada awal tahun 1980-an masih dapat dihitung sebanyak 40-45 daerah yang berbeda di Maluku Tengah. Walau bagaimanapun, pada waktu itu hanya satu bahasa sahaja, iaitu bahasa Melayu Ambon. Dapat dikatakan bahwa kini di Ambon terdapat sekurang-kurangnya 200,000 penutur bahasa Melayu Ambon sebagai bahasa pertama, bahkan mungkin sebagi satu-satunya bahasa pengantar. Faktor yang mendorong perpindahan bahasa dalam hal ini yang mengakibatkan punahnya bahasa